Lappung – Perkawinan anak jadi bom waktu bagi kesehatan dan masa depan.
Perkawinan anak menjadi topik hangat yang disorot oleh Eny Retno Yaqut, Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama RI.
Baca juga : 1 Juta Anak Lampung Ditargetkan Imunisasi Polio, Sasar Usia 0-7 Tahun
Hal itu terungkap dalam seminar bertema “Cegah Kawin Anak untuk Mewujudkan Generasi Berkualitas” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI.
Eny Retno Yaqut menyampaikan pesan yang kuat mengenai bahaya perkawinan anak terhadap hak dan kesehatan anak-anak.
“Perkawinan anak, meskipun mengalami penurunan signifikan, angkanya masih cukup tinggi. Jika tidak ditangani dengan serius, akan menimbulkan permasalahan baru.
“Bukan hanya dalam aspek kesehatan dan ekonomi, tetapi juga mental dan psikologi,” ungkap Eny Retno Yaqut secara daring pada Jumat, 26 Juli 2024, di SHL Hotel and Resort, Bandarlampung.
Baca juga : Pentingnya Lahirkan 1 Anak Perempuan: Mitos atau Fakta?
Dalam sambutannya, Eny Retno Yaqut menekankan bahwa perkawinan anak merupakan pelanggaran terhadap hak anak.
Di mana mereka rentan kehilangan hak kesehatan, pendidikan, serta perlindungan dari eksploitasi.
“Pernikahan di usia dini dapat berdampak buruk pada kesehatan anak.
“Di mana organ reproduksi belum berkembang sempurna dan secara mental serta fisik belum siap,” jelasnya.
Ketidaksiapan menjadi seorang ibu pada usia muda dapat meningkatkan risiko kesehatan ibu, bahkan kematian.
Serta meningkatkan risiko anak mengalami keterbelakangan mental, gizi buruk, dan stunting.
Di daerah dengan tingkat pernikahan anak yang tinggi, seringkali terkait dengan isu-isu sosial lain seperti angka kelahiran dan kematian yang tinggi, serta tingginya angka perceraian.
“Jika belum siap berumah tangga, keluarga mudah mengalami broken home, dan anak-anak yang dilahirkan cenderung memiliki kesehatan yang buruk dan pertumbuhan stunting,” lanjut Eny Retno Yaqut.
Baca juga : Rektor UTI: Pengangguran Anak Muda Jadi Ancaman Nyata
Ia juga menyoroti bahwa pasangan muda sering kali mengalami kesulitan beradaptasi dalam kehidupan rumah tangga dan memberikan pengasuhan optimal kepada anak-anak mereka.
Perkawinan Anak: Bom Waktu bagi Kesehatan dan Masa Depan
Dalam penutupannya, Eny Retno Yaqut mengingatkan, menjadi orang tua tidak ada sekolah khususnya, perlu persiapan matang.
“Jika tidak, akan muncul fenomena anak gendong anak karena peran sebagai ibu belum optimal,” ujarnya.
Karenanya, perkawinan anak adalah bom waktu yang mengancam masa depan kesehatan dan kesejahteraan generasi mendatang.
Dengan seminar ini, diharapkan semakin banyak pihak yang terlibat aktif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan perkawinan anak di Indonesia.
Baca juga : BPS: Anak Lampung Cuma Lulus SMA





Lappung Media Network