Lappung – Indonesia dinilai memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi pemain utama di panggung agribisnis global.
Dengan tanah vulkanis yang subur dan posisi strategis di garis khatulistiwa, sektor perkebunan nasional seharusnya mampu berbicara lebih keras di kancah internasional.
Baca juga : PTPN di Era Danantara
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dapat menjadi titik balik krusial untuk merealisasikan potensi tersebut.
Menurutnya, Danantara memegang kunci untuk mentransformasi BUMN Perkebunan dari sekadar pengelola lahan menjadi raksasa korporasi dunia.
“Kita punya modal alam luar biasa. Namun, jika melihat tetangga seperti FGV Holdings di Malaysia atau Vietnam Rubber Group, mereka sudah lebih dulu diperhitungkan karena pengelolaan aset yang terstruktur.
“Danantara hadir sebagai harapan baru untuk mengejar ketertinggalan ini,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Senin, 22 Desember 2025.
Mahendra menyoroti pendekatan Resource-Based View yang sukses diterapkan negara tetangga.
FGV Malaysia konsisten dengan integrasi hulu-hilir, sementara Vietnam unggul dalam efisiensi operasional berbasis teknologi.
3 Langkah
Mahendra, yang juga dikenal sebagai tokoh eksponen 98, memaparkan 3 langkah strategis yang harus menjadi prioritas Danantara agar tidak hanya menjadi lapisan baru dalam birokrasi, tetapi benar-benar menjadi mesin pertumbuhan.
Pertama, akselerasi hilirisasi.
Mengutip pernyataan Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani pada Agustus 2025 lalu, Mahendra menekankan bahwa BUMN tidak boleh lagi nyaman hanya berjualan CPO mentah (Crude Palm Oil).
Baca juga : Urgensi Audit Aset PTPN 1 Ciwidey: Antara Kepentingan Ekonomi dan Kelestarian Lingkungan
“Nilai tambah ada di produk turunan seperti oleokimia dan energi terbarukan. Ekonomisnya jauh lebih tinggi dibanding bahan mentah,” tegasnya.
Kedua, adopsi teknologi pertanian modern secara masif.
Mahendra mencontohkan kesuksesan PalmCo yang mencatatkan lonjakan laba bersih hingga 84 persen pada Kuartal III-2025.
Capaian tersebut tidak lepas dari penerapan sistem Agro View yang menekan biaya operasional dan mendongkrak efisiensi.
“Bayangkan jika standar teknologi seperti PalmCo ini diterapkan merata di seluruh unit perkebunan BUMN di bawah naungan Danantara. Efisiensinya akan luar biasa,” imbuhnya.
Ketiga, penyederhanaan struktur organisasi.
Visi Danantara untuk merampingkan BUMN menjadi sekitar 240 entitas dinilai langkah tepat untuk mempercepat pengambilan keputusan agar lebih lincah bersaing di pasar ekspor.
Menuju Temasek Versi Indonesia
Lebih lanjut, Mahendra mengapresiasi visi Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara, Muliaman Hadad, yang menargetkan konsolidasi kekuatan ekonomi nasional setara dengan Temasek (Singapura).
Dengan aset kelolaan yang mencapai ribuan triliun rupiah, Danantara dinilai memiliki modal cukup untuk menggerakkan perubahan besar.
“Jika strategi hilirisasi dan digitalisasi berjalan konsisten, BUMN Perkebunan kita akan naik kelas.
“Bukan lagi sekadar tukang kebun, tapi pemain kunci rantai pasok pangan dan energi dunia,” kata Mahendra.
Ia menutup pandangannya dengan harapan agar transformasi korporasi ini bermuara pada tujuan utamanya, yakni kesejahteraan masyarakat luas.
Baca juga : BPI Danantara Resmi Larang Komisaris BUMN Terima Tantiem dan Insentif Kinerja





Lappung Media Network