Lappung – Perekonomian Provinsi Lampung pada awal tahun 2025 menunjukkan wajah ganda.
Di satu sisi, sektor berbasis agroindustri mencatatkan pertumbuhan impresif, namun di sisi lain, industri manufaktur berat dan padat teknologi justru mengalami stagnasi serius.
Baca juga : Jual Pasir Putih, Beli Masa Depan: Dilema Pariwisata Pantai Lampung
Hal ini disoroti oleh Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menanggapi rilis data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025.
Mahendra menilai, meski secara agregat ekonomi tumbuh, terdapat kesenjangan struktural yang jika dibiarkan akan membuat Lampung terjebak dalam pertumbuhan semu.
“Kalau kita bedah data BPS, ekonomi Lampung memang masih ditopang 3 pilar, Pertanian (28,38 persen), Industri Pengolahan (19,44 persen), dan Perdagangan (13,91 persen).
“Tapi jangan terlena angka makro. Ada ketimpangan nyata antara industri yang mengolah hasil bumi dengan industri teknologi tinggi,” ujar Mahendra, Minggu, 28 Desember 2025.
Agro dan Lada Hitam
Mahendra memaparkan, industri berbasis agro masih menjadi bintang utama.
Pengolahan kopi Robusta, CPO (minyak sawit mentah), hingga tapioka tumbuh kencang.
Bahkan, hilirisasi tebu dan nanas kaleng yang dimotori pemain besar seperti Great Giant Pineapple (GGP) tetap menjadi tulang punggung ekspor ke pasar global.
Hingga Januari 2025, Lampung mempertahankan posisinya sebagai salah satu eksportir terdepan di Sumatera dengan tujuan utama Amerika Serikat, Tiongkok, India, dan Pakistan.
“Yang menarik adalah fenomena kembalinya komoditas jadul. Ekspor lada hitam, misalnya, nilai ekspornya melonjak drastis hingga 77 persen pada periode 2024-2025.
“Ini bukti komoditas warisan kita masih punya taring di pasar internasional jika kualitasnya dijaga,” jelas Mahendra.
Adapun komoditas yang sukses menembus pasar internasional antara lain:
- Lemak dan minyak nabati (CPO dan turunannya).
- Kopi, teh, dan rempah-rempah.
- Pulp kayu (bubur kertas).
- Olahan buah dan sayuran (nanas kaleng).
- Udang dan olahan ikan beku.
Stuck dan Masalah SDM
Berbanding terbalik dengan sektor agro, Mahendra memberikan catatan merah untuk industri manufaktur non agro.
Sektor logam, mesin, dan alat transportasi dinilai hampir tidak bergerak maju.
“Masalahnya klasik tapi krusial. Kita ketergantungan bahan baku impor dan minim tenaga kerja terampil untuk teknologi tinggi.
“Industri Kecil Menengah (IKM) seperti Tapis pun nasibnya sama, masih terjebak di level kerajinan rumahan dan belum sanggup masuk ke skala produksi massal yang kompetitif,” tegasnya.
Baca juga : Lampung Juara 3 PPD Nasional 2025
Ia menyoroti kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai akar masalah.
Data BPS 2025 menunjukkan mayoritas pekerja industri di Lampung masih berlatar belakang pendidikan SD atau SMP.
Hilirisasi
Menyinggung kebijakan pemerintah daerah, Mahendra mengapresiasi langkah Pemprov Lampung termasuk pernyataan Sekdaprov Fahrizal Darminto kala itu yang fokus pada hilirisasi dan penetapan kawasan industri baru di Lampung Tengah, Mesuji, Waykanan, dan Tulang Bawang lewat sinkronisasi RTRW.
Keberadaan Tol Trans Sumatera juga diakui membantu menekan ongkos logistik ke Pelabuhan Panjang.
“Infrastruktur sudah ada, tapi itu belum cukup. Lampung harus keluar dari jebakan pertumbuhan semu.
“Konsep multiplier effect belum berjalan maksimal karena industri belum menyerap tenaga kerja lokal secara masif,” kritik Mahendra.
Pendidikan dan Energi
Untuk memecahkan kebuntuan ini, Mahendra menyodorkan 2 solusi taktis kepada pemerintah daerah.
Pertama, perbaikan radikal pada sistem link and match pendidikan, khususnya vokasi teknik industri, agar lulusan siap pakai di pabrik-pabrik modern.
Kedua, intervensi pada biaya energi.
“Biaya operasional pabrik masih terlalu tinggi. Pemprov harus berani melobi pusat untuk ketersediaan gas industri dengan harga kompetitif.
“Tanpa insentif energi, investor manufaktur serius tidak akan melirik Lampung,” paparnya.
Menutup keterangannya, Mahendra memberikan analogi menohok terkait kondisi Lampung saat ini.
“Lampung di tahun 2025 ini ibarat raksasa yang baru bangun tidur tapi kakinya masih terikat. Kita terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah dan setengah jadi.
“Kalau tidak segera membenahi kualitas SDM dan memperkuat IKM, industrialisasi ini hanya akan dinikmati korporasi besar, sementara rakyat di desa tetap hanya jadi penonton,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Kawasan Metropolitan Lampung Raya: Kunci Pemerataan Ekonomi Lewat Koordinasi Regional





Lappung Media Network