Berdasarkan hasil evaluasi bahwa lahan pertanian kering (tadah hujan) hanya mampu produktif selama dua tahun pertama saja.
Dan kenyataan bahwa para kolonis dari Jawa adalah petani tradisional yang tidak memiliki keahlian secara mandiri dalam membangun lahan pertanian berbasis irigasi teknis modern.
Hal itu ditambah lagi adanya laporan bahwa beberapa desa kolonis dalam tahun terakhir (sampai dengan tahun 1915) selalu mengalami kegagalan panen.
Ditambah kolonis banyak yang meninggal karena malaria.
Baca juga : Arinal Terima Penghargaan Adhikarya Nararya Pembangunan Pertanian
Hasil identifikasi rupanya menunjukkan kurang tepatnya pemilihan dan penempatan lokasi, seperti area pemukiman yang berada di lahan rendah dan cenderung basah.
Dan sebagian besar lahan pertanian kolonis justru berada di lahan yang tinggi yang tidak mendapat pasokan air.
Permasalahan ini terjadi di beberapa desa kolonis seperti Karanganyar, Tambahrejo, Purworejo, dan Baledono.
Sehingga pada tahun 1916 mulai dibangunlah Bendung Way Semah untuk menyelesaikan beberapa persoalan tersebut.
Bendungan Way Semah berlokasi di Desa Sukadadi Kecamatan Gedongtataan Kabupaten Pesawaran
Sesuai dengan namanya, struktur bendung ini menangkap aliran sungai Way Semah untuk dinaikkan permukaan airnya.
Lalu dialirkan ke saluran irigasi yang akan mencukupi kebutuhan air di lahan pertanian sekitarnya.
Bendung ini termasuk dalam wilayah pengelolaan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji-Sekampung yang kantornya berpusat di Teluk Betung.
Sungai Way Semah pada bagian hilirnya bermuara di sungai Way Sekampung, sehingga sungai ini merupakan anak sungai dan sub-DAS Way Sekampung.
Beberapa bagian struktur bendung masih menunjukkan keasliannya.
Seperti bangunan bendung, pintu penguras, pintu intake, pagar tembok tebal di sekelilingnya, tunnel penghubung intake dengan saluran primer.
Sayangnya bagian bangunan pelindung beratap yang masih asli, hanya mampu bertahan sampai dengan tahun 2020.
Banjir bandang yang membawa material besar seperti lumpur berat dan gelondongan kayu besar menerjang bangunan pelindung hingga roboh dan sebagian terbawa hanyut aliran banjir.
Bendungan Way Semah memiliki nilai sejarah yang sangat penting.
Selama puluhan tahun, ia telah menjadi penanda bersejarah dari era kolonisasi di Lampung.
Bagian dari warisan budaya dan sejarah daerah ini sekarang hanya bisa dikenang dalam cerita-cerita nenek moyang dan beberapa dokumentasi yang masih tersisa.
Baca juga : Wisata Lanakila Lake Dorong Geliat Perekonomian Pringsewu
