Tapi pak bupati bagusin jalan menuju Desa Girimulyo,” kata Arinal berseloroh, yang disambut dengan tepuk tangan dan tawa masyarakat.
Arinal menuturkan, tugasnya dalam mencukupi produksi padi sudah ringan. Untuk itu, ia pun melihat potensi dari tanaman yang bersifat pohon.
“Selain alpukat, coba tanam jengkol di wilayah tertentu. BPDAS tolong bantu sediakan bibit jengkol, matoa, dan lainnya,” ujar Arinal.
Baca juga : Harga Beras Dorong Inflasi di Provinsi Lampung
Lebih lanjut, Gubernur Arinal juga menginginkan agar ada nilai lebih dari produksi alpukat ini.
“Kalau ada manfaat lain dari alpukat yang belum bisa digunakan, Dinas Perindustrian dan Dinas Pertanian tolong bantu,” kata Arinal.
Sehingga yang dijual untuk konsumsi laku, dan yang tidak terjual bisa tetap laku.
Misal untuk bahan kosmetik dan lainnya. Tapi tetap memikirkan jumlah produksinya, agar bisa memenuhi permintaan.
“Ini sebuah keberhasilan dalam merehabilitasi kawasan hutan. Fungsi hutannya dapat, nilai ekonominya ada, sehingga masyarakat sejahtera,” ujar dia.
Desa Girimulyo Lampung Timur sukses kembangkan alpukat siger
Dalam dialog yang dilakukan sebelum melakukan panen, terungkap bahwa masyarakat sangat bersyukur bisa memanfaatkan hutan lindung milik negara yang ada di Desa Girimulyo.
Hal ini diungkapkan oleh Ketua Gapoktan Agro Mulyo Lestari, Asmawi.
Bahkan dirinya mengaku sangat senang Gubernur Lampung mau datang secara langsung ke Desa Girimulyo.
“Belum ada gubernur yang masuk ke Desa Girimulyo. Sejak saya tinggal di sini dari tahun 1986 belum ada yang masuk ke desa kami. Terima kasih sudah mengunjungi kami,” ucapnya.
“Kami juga bersyukur bisa mengelola hutan lindung dengan sistem perhutanan sosial. Kami tidak perlu memiliki lahan.
“Tapi bisa menikmati hasil dari tanaman yang kami tanam. Fungsi hutan bisa kembali bagus, dan kami bisa sejahtera,” kata Asmawi.
Asmawi menerangkan, masyarakat sudah menanam di area seluas 345 hektar dari tahun 2020 sampai tahun 2022.
Lalu diikuti oleh masyarakat hingga luas tanamnya bertambah. Dan setiap satu hektar ada 400 batang.
“Untuk saat ini produksinya sudah sekitar 1300 ton per tahun. Misal harga Rp15 ribu saja sudah menyumbang perputaran uang Rp19 miliar lebih di Girimulyo,* terangnya.
“Mohon doanya, nanti di tahun 2025 kami bisa panen dengan totalnya sekitar 3450 ton,” kata Asmawi.
Baca juga : Lampung Potensial Jadi Sentra Pengembangan Bawang Merah
