Lappung.COM – Simak Artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Hilirisasi Berbasis Rawa: Strategi Mesuji Lepas dari Kutukan Komoditas.
Hilirisasi Berbasis Rawa: Strategi Mesuji Lepas dari Kutukan Komoditas
Oleh: Mahendra Utama*
Menatap proyeksi masa depan Kabupaten Mesuji berarti menatap bentangan rawa pasang-surut yang eksotis dan ribuan hektare perkebunan kelapa sawit.
Sebagai daerah hasil pemekaran, Mesuji dianugerahi keunikan ekologis yang jarang dimiliki oleh wilayah lain di Lampung.
Namun, selama hampir dua dekade berdiri, struktur ekonomi wilayah ini tampak masih terjebak dalam lingkaran ekonomi primer yang menjemukan: menanam, memanen, lalu langsung menjualnya dalam bentuk mentah atau setengah jadi seperti Crude Palm Oil (CPO) dan getah karet mentah.
Dalam perspektif ekonomi pembangunan, pola ketergantungan akut ini linier dengan teori Kutukan Sumber Daya Alam (Resource Curse) yang digagas oleh Richard Auty.
Teori ini menjelaskan mengapa daerah-daerah yang kaya akan komoditas alam mentah sering kali lambat berkembang secara struktural.
Hal ini terjadi akibat kegagalan pemerintah setempat dalam melakukan lompatan teknologi ke sektor manufaktur hilir yang bernilai tambah tinggi.
Akibatnya, APBD daerah dan tingkat kesejahteraan masyarakat Mesuji menjadi sangat rapuh karena terus mendompleng pada ketidakpastian harga pasar dunia.
Ambil contoh sektor pertanian rawa pasang-surut di kawasan Rawajitu Utara. Wilayah ini memiliki modal genetik yang sangat besar untuk menjadi pusat swasembada pangan Lampung.
Sayangnya, proses industrialisasi pangan dan tata kelola pascapanen di tingkat lokal masih sangat minim. Gabah kering hasil keringat petani Mesuji sering kali langsung digondol keluar daerah untuk digiling dan dikemas di wilayah lain.
Dampaknya, Mesuji kehilangan potensi perputaran uang, nilai tambah ekonomi, serta penciptaan lapangan kerja baru yang berharga bagi generasi mudanya.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, memberikan garis kebijakan yang tegas untuk mendobrak kebuntuan struktural ini.
“Kita harus berani mengubah pola pikir ekonomi. Lampung, khususnya Mesuji, tidak boleh lagi mengekspor bahan mentah. Kita harus membangun hilirisasi berbasis potensi lokal, seperti optimalisasi lahan rawa untuk pangan berkelanjutan yang terintegrasi dengan industri pengolahan modern,” jelas Rahmat Mirzani Djausal.
Maka, kebijakan ekonomi Mesuji ke depan wajib difokuskan pada pemberian insentif bagi investasi sektor hilir.
Pemerintah daerah harus agresif menarik minat investor untuk mendirikan pabrik turunan kelapa sawit (seperti minyak goreng dan oleokimia) langsung di dalam wilayah kabupaten.
Di sisi lain, modernisasi Rice Milling Unit (RMU) skala besar pada sektor pangan rawa harus segera diwujudkan.
Mengubah tantangan lahan rawa menjadi kekuatan industri manufaktur adalah satu-satunya jalan keluar bagi Mesuji untuk melompat dari status daerah pelintas menjadi raksasa ekonomi baru di gerbang Sumatra.
————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
