Lappung – Putra daerah asal Kabupaten Lampung Timur, Bayu Saputra, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih gelar Doktor (Dr.) dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Tak hanya lulus dengan predikat Cumlaude, pria berusia 37 tahun ini juga menawarkan solusi konkret untuk salah satu tantangan terbesar pendidikan Indonesia: rendahnya skor PISA, melalui model pembelajaran inovatif yang ia kembangkan.
Baca juga : Satu-satunya dari Lampung, SMAS Al Kautsar Masuk Jajaran Elite Pendidikan Indonesia
Bayu Saputra resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka di Pascasarjana UNJ.
Dengan masa studi 3 tahun 1 bulan, ia lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, 3,92.
Pencapaian ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga membawa harapan baru bagi dunia pendidikan nasional.
Disertasinya melahirkan sebuah model pembelajaran bernama Edu SMART, yang dirancang khusus untuk meningkatkan efektivitas belajar dan membekali siswa dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang diujikan dalam Programme for International Student Assessment (PISA).
“Tujuan dari PISA adalah melihat kesiapan siswa di seluruh dunia dalam menghadapi kehidupan nyata dan mengevaluasi kualitas pendidikan suatu negara,” tutur Bayu.
“Dari sana, kita bisa melakukan evaluasi untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan kita,” tambahnya.
Edu SMART
Model pembelajaran Edu SMART yang dikembangkan Bayu mengintegrasikan teknologi untuk menciptakan proses belajar yang lebih efisien dan relevan.
Baca juga : 75 Siswa Kurang Mampu Siap Masuk SRMA Lampung, Dapat Fasilitas Asrama dan Pendidikan Gratis
Menurutnya, banyak model pembelajaran yang ada saat ini cenderung membutuhkan waktu lama dalam penerapannya.
“Dengan adanya model Edu SMART yang melibatkan teknologi seperti Multimedia, LMS (Learning Management System), atau bahkan AI, pembelajaran dapat lebih efektif dan efisien,” terangnya.
Nama SMART sendiri merupakan akronim dari sintaks atau langkah-langkah pembelajaran yang dirancang secara sistematis:
- S (Share and Accessible): Siswa diajak untuk saling berbagi materi atau fenomena dari media yang mudah diakses, baik secara online maupun offline.
- M (Measurable): Siswa didorong untuk membuat pertanyaan dan menganalisis informasi yang didapat, baik secara individu maupun kelompok.
- A (Apply): Siswa menerapkan konsep yang dipelajari untuk menyelesaikan soal-soal dalam konteks situasi kehidupan nyata.
- R (Re-orientation): Siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya dan menyusunnya dalam format presentasi.
- T (Time to Reflection): Guru dan siswa bersama-sama memberikan umpan balik dan evaluasi terhadap materi yang telah dikaji.
Anak Petani
Di balik pencapaian akademisnya yang cemerlang, terdapat kisah perjuangan yang menginspirasi.
Baca juga : Darurat Pendidikan, 34 Persen Warga Lampung Barat Tak Tuntas Pendidikan Dasar
Bayu Saputra tidak pernah melupakan akarnya sebagai anak seorang petani dari desa.
Baginya, latar belakang tersebut justru menjadi bahan bakar utama untuk terus berjuang.
“Saya anak kampung, anak Petani. Tapi justru hal itu yang memotivasi saya untuk terus menerus berjuang, dan kelak jadi orang yang bermanfaat buat keluarga dan orang-orang kampung,” ujarnya.
Dukungan keluarga dan doa orang tua menjadi pilar kekuatannya dalam menempuh pendidikan tinggi.
Rancangan model Edu SMART sendiri telah ia persiapkan sejak awal masa kuliah doktornya, menunjukkan visi dan tekad yang kuat untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.
Kini, dengan gelar doktor di tangan dan sebuah model pembelajaran yang inovatif, Bayu berharap dapat memberikan kontribusi positif yang nyata.
“Saya berharap model pembelajaran ini dapat menyumbangkan kontribusi positif bagi dunia pendidikan.
“Belajar menjadi lebih efektif, efisien, kualitas meningkat, dan yang terpenting, menjadi bekal yang lebih baik untuk kehidupan siswa kelak,” pungkasnya.
Baca juga : BPKP: Lampung Peringkat 4 Korupsi Pendidikan
