Sementara, Eko Wahyu, perwakilan Koperasi Mutiara Jaya Baru, turut berharap bisa mendapatkan pembeli yang menguntungkan petani.
“Kami sebagai produsen akan meningkatkan kualitas, sedangkan pembeli bisa menawarkan harga yang bagus,” jelas Eko.
Acara ini, menurut Eko, sangat membantu produsen di tingkat petani karena bisa langsung bertemu pembeli dan ekspor langsung melalui wadah koperasi.
Baca juga : Datang Terlambat. BMKG: Awal Musim Hujan di Lampung Diprediksi November
“Kami berharap Pemprov Lampung terus membimbing agar kami bisa mendunia, bisa ekspor dari tingkat petani tanpa ada pihak perantara,” kata dia.
Eko menuturkan, koperasinya khusus produsen lada hitam. Lada hitam dari Desa Sukadana Baru, Kecamatan Marga Tiga, Lampung Timur, sudah memiliki sertifikat indikasi geografis.
“Karakteristik produk kami tidak dimiliki daerah lain. Dan memang untuk Provinsi Lampung, penghasil terbesar lada hitam ada di tempat kami,” tegasnya.
Dia menyebut, luasan lahan sekitar 570 hektar, per tahun bisa menghasilkan 1.200 hingga 1.500 ton lada hitam.
“Selama ini kami sudah menjual di pasar domestik. Seperti ke Surabaya, Yogyakarta, Semarang, dan kota lainnya,” tandas Eko.
Diketahui, acara ini diikuti oleh 15 penjual dari berbagai kalangan.
Termasuk dari perusahaan swasta, koperasi, Usaha Bersama (UB).
Dalam kesempatan ini, para peserta diberi kesempatan mempresentasikan produk-produk yang ditawarkan.
Terpantau, beberapa pembeli mengikuti acara secara daring dan luring.
Terdiri dari pembeli asal Lampung, luar Lampung, Malaysia dan India.
Dari India diwakili oleh Mr Hiren Gandhi dari All India Spices Importers Federastion (Asosiasi Importir Rempah India).
Baca juga : Provinsi Lampung Ambil Bagian di IMT-GT 2023, Paparkan 3 Potensi Unggulan
