Lappung – Elegi buat Erha seekor Harimau Sumatera di Medan Zoo.
Harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae), salah satu hewan dilindungi dengan status terancam punah, kembali menyita perhatian setelah kematian tragis Erha di Medan Zoo.
Baca juga : HK Cegah Hewan Seberangi JTTS
Erha, lahir pada 18 Oktober 2012, menjadi lambang ketidaklayakan dalam pengelolaan habitat dan kesejahteraan satwa.
Keberadaan Harimau Sumatera semakin terancam oleh perburuan ilegal dan degradasi habitat.
Konflik antara manusia dan satwa juga semakin meruncing, menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak.
Konservasi menjadi langkah krusial untuk melindungi populasi Harimau Sumatera dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Sejumlah upaya konservasi in-situ dan ex-situ telah dilakukan, termasuk pembangunan cagar alam, suaka marga satwa, dan arboretum.
Baca juga : Ancaman Virus Nipah di Lampung. Pengawasan Hewan Ternak Impor Diperketat
Namun, tantangan nyata muncul ketika prinsip dan etika pemeliharaan hewan diabaikan, terutama dalam kebun binatang.
Kematian Erha menjadi bukti telak ketidaklayakan pihak kebun binatang.
Kandang yang tidak sesuai dengan prinsip kesejahteraan satwa menunjukkan bahwa masih banyak kebun binatang yang belum memprioritaskan kondisi hidup satwa yang mereka kelola.
Erha, setelah 11 tahun hidup, tidak pernah kawin dengan harimau betina manapun.
Kematian tragisnya menjadi panggilan untuk lebih memperhatikan standar hidup satwa di kebun binatang, seiring dengan upaya melestarikan spesies yang terancam punah.
Baca juga : Panas Ekstrem, Disnakkeswan Lampung Siapkan 10 Ribu Dosis Obat Hewan Ternak
Para pihak terkait perlu mengintrospeksi manajemen kebun binatang, memastikan bahwa setiap kandang memenuhi standar kesejahteraan satwa.
Kematian Erha harus menjadi momentum untuk perubahan positif dalam pendekatan pengelolaan satwa, menjauhkan mereka dari ancaman punah yang semakin nyata.
Dengan kehilangan Erha, dunia konservasi harus bersatu untuk meneguhkan komitmen melindungi Harimau Sumatera dan spesies lainnya.
Elegi buat Erha bukan hanya sekadar duka, tetapi panggilan untuk tindakan nyata dalam melestarikan keanekaragaman hayati yang semakin terancam.
Artikel opini ini ditulis oleh mahasiswa Itera, Ahmad Fadhil, Dera Ayu Rahmawati, Fitri Amelia Purmadi, dan Nurhadi Rahmadhan.
Baca juga : Peringkat 1 Dunia Pengunggah Video Penyiksaan Hewan. Netizen Ragukan Laporan SMACC




Lappung Media Network