Lappung – Jalan rusak dan jalan baru kepemimpinan Lampung saatnya bangkit bersama.
Provinsi Lampung dikenal sebagai gerbang utama Pulau Sumatera.
Baca juga : Efisiensi Anggaran, Lampung Andalkan Pergub Atasi Kerusakan Jalan Akibat ODOL
Wilayah ini memiliki posisi strategis dalam arus logistik nasional karena menjadi jalur vital penghubung antara Pulau Jawa dan Sumatera.
Namun, ironi terjadi saat infrastruktur jalan sebagai nadi utama mobilitas dan distribusi masih menyisakan persoalan akut, khususnya pada jalan provinsi dan kabupaten/kota.
Menurut data Statistik Jalan Nasional 2023 dari Kementerian PUPR dan BPS Lampung, hanya 66,4 persen jalan kabupaten/kota yang dinyatakan dalam kondisi baik.
Sisanya, sekitar 33,6 persen masih rusak, mulai dari tingkat sedang hingga berat, terutama di wilayah pinggiran dan sentra produksi pertanian.
Kondisi ini terus berulang dari tahun ke tahun tanpa penyelesaian sistemik.
Ketika Jalan Rusak Menjadi Simbol Stagnasi
Kerusakan jalan bukan sekadar persoalan teknis. Ia telah menjelma menjadi simbol stagnasi dan frustrasi masyarakat.
Di beberapa daerah, warga hanya bisa berharap jalan diperbaiki setelah mendapat sorotan publik atau viral di media sosial.
Baca juga : Lampung Darurat! Jalan Rusak, Nyawa Melayang, Negara Kemana?
Fenomena ini terlihat jelas pada tahun 2023, ketika Bima Yudho Saputro, seorang pemuda asal Lampung, mengunggah video kritik tajam terhadap kondisi jalan di kampung halamannya melalui TikTok.
Video tersebut langsung viral dan memicu reaksi berantai hingga Presiden Joko Widodo turun tangan meninjau langsung jalan rusak di Lampung Tengah.
Publik menyebutnya sebagai “Bima Effect” ekspresi keputusasaan kolektif masyarakat terhadap sistem pengaduan dan respons birokrasi yang dianggap lamban dan formalistik.
Kepemimpinan Muda Membawa Harapan Baru
Di tengah keprihatinan tersebut, muncul gelombang harapan baru, kebangkitan pemimpin muda di Lampung yang kini mulai menduduki posisi strategis.
Mereka membawa semangat baru lebih terbuka, partisipatif, dan responsif terhadap aspirasi rakyat.
Baca juga : Frustrasi 10 Tahun, Warga Lampung Selatan Tebar Lele di Jalan Rusak Sebagai Bentuk Protes
Beberapa sosok muda yang menjadi wajah perubahan di Lampung antara lain:
- Rahmat Mirzani Djausal, Gubernur Lampung yang berlatar belakang pengusaha muda.
- Jihan Nurlaela, Wakil Gubernur Lampung, representasi perempuan muda dalam kepemimpinan daerah.
- Ahmad Giri Akbar, Ketua DPRD Provinsi Lampung, yang mendorong sinergi antar-instansi.
- Marindo Kurniawan, Sekdaprov, dengan pendekatan teknokratis yang modern.
Bupati-bupati muda seperti:
- Radityo Egi Pratama (Lampung Selatan)
- Ardito Wijaya (Lampung Tengah)
- Ela Siti Nuryamah (Lampung Timur)
- Ayu Asalasiyah (Waykanan)
- Riyanto Pamungkas (Pringsewu)
Mereka tidak hanya menjadi pengisi jabatan, tetapi representasi energi baru untuk membawa perubahan nyata di akar persoalan, termasuk infrastruktur jalan.
Solusi Sistemik, Bukan Reaktif
Menyelesaikan masalah jalan rusak tidak cukup dengan instruksi sesaat atau reaksi pasca viral.
Dibutuhkan strategi terintegrasi dan kolaboratif antar level pemerintahan. Berikut beberapa solusi yang disarankan:
- Audit Jalan Terbuka dan Dashboard Publik; Pemerintah Provinsi dapat menciptakan sistem pelaporan jalan berbasis open data yang menampilkan status proyek, jadwal, dan sumber dana (APBD/APBN/CSR). Model seperti ini telah berhasil diimplementasikan di Jawa Barat melalui SAPA Warga.
- Aplikasi Lapor Jalan Rusak Berbasis Komunitas; Masyarakat Lampung yang aktif di media sosial dapat dilibatkan melalui aplikasi lokal berbasis GPS dan foto. Hal ini menciptakan partisipasi real-time dan mempercepat respon dari pemerintah.
- Skema CSR Kolaboratif; Banyak jalan rusak akibat aktivitas kendaraan berat perusahaan tambang, perkebunan, dan logistik. Perusahaan tersebut perlu dilibatkan secara aktif dalam pembiayaan dan pemeliharaan jalan sebagai bentuk tanggung jawab sosial.
- Forum Kolaborasi Infrastruktur; Para kepala daerah di Lampung perlu membentuk forum lintas kabupaten/kota di bawah koordinasi gubernur untuk menyinergikan pembangunan infrastruktur, menghindari tumpang tindih, dan mempercepat pelaksanaan.
Dari Jalan Rusak ke Jalan Perubahan
Perbaikan jalan bukan sekadar proyek fisik, tetapi juga pembuktian bahwa pemerintah hadir dan peduli.
Jalan yang mulus mencerminkan birokrasi yang berjalan, dan kepercayaan masyarakat tumbuh dari kejelasan, bukan janji.
Pemimpin muda Lampung hari ini memiliki modal besar: energi segar, koneksi digital, dan semangat kolaboratif.
Namun tantangan mereka lebih besar: membangun kepercayaan, mendengar tanpa harus menunggu viral, dan bekerja tanpa menunggu musim kampanye.
Seruan untuk Kepemimpinan Muda
Saatnya para pemimpin muda Lampung membuktikan bahwa mereka bukan sekadar generasi penerus, tetapi generasi perubah.
Warga tak menuntut keajaiban mereka hanya ingin jalan yang bisa dilalui tanpa rasa cemas, dan pemimpin yang hadir tanpa harus dipanggil lewat trending topic.
Mari benahi jalan rusak, dan sekaligus benahi jalan pemerintahan kita. Lampung tidak kekurangan potensi yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk bergerak bersama.
Artikel ini ditulis oleh: Mahendra Utama
Pemerhati Pembangunan dan Pelaku Agroindustri Asal Lampung
Baca juga : 8 Proyek Jalan dan Jembatan Digarap di Tanggamus





Lappung Media Network