Lappung – Rute penerbangan Lampung-Jakarta yang menjadi salah satu koridor udara tersibuk di selatan Sumatera ternyata tidak didominasi oleh para pelancong.
Data terbaru menunjukkan bahwa mayoritas penumpang melakukan perjalanan untuk keperluan pekerjaan, dinas, dan urusan keluarga, menyoroti peran vital rute ini sebagai penopang utama mobilitas ekonomi dan sosial antara Lampung dan ibu kota.
Baca juga : Semangat Baru: Mahendra Utama Titip Harapan pada Bhayangkara Presisi Lampung FC
Dengan frekuensi rata-rata 66 penerbangan langsung setiap minggu dari Bandara Radin Inten II (TKG) ke Soekarno-Hatta (CGK), atau setara 9 penerbangan per hari, jalur ini telah menjadi urat nadi konektivitas yang krusial.
Namun, karakter penumpangnya sangat berbeda jika dibandingkan dengan rute menuju destinasi liburan populer seperti Bali atau Yogyakarta.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pergerakan penumpang dari dan menuju Provinsi Lampung lebih banyak didorong oleh motif non-wisata.
“Perjalanan udara dari Lampung lebih banyak untuk keperluan kerja, dinas, pendidikan, dan urusan keluarga, bukan liburan,” ungkap Mahendra Utama, pemerhati pembangunan yang menganalisis data tersebut, Sabtu, 2 Agustus 2025.
Baca juga : Selat Sunda: Perahu Kertas Negeri, Karya: Mahendra Utama
Data dari Kementerian Perhubungan juga selaras dengan temuan ini.
Pertumbuhan trafik penumpang di rute Lampung-Jakarta berjalan beriringan dengan meningkatnya jumlah warga Lampung yang bekerja atau menetap di kawasan Jabodetabek.
Mereka terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari aparatur sipil negara (ASN), mahasiswa, profesional muda, hingga para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).
Selain itu, rute ini menjadi andalan bagi pejabat daerah dan anggota DPRD Lampung yang memiliki agenda rutin dengan kementerian dan lembaga di Jakarta.
Efisiensi Waktu
Faktor geografis menjadi salah satu pendorong utama mengapa jalur udara menjadi pilihan favorit.
Meskipun jarak darat antara Bandarlampung dan Jakarta hanya sekitar 240 kilometer, perjalanan melalui tol Trans-Sumatera dan penyeberangan feri masih membutuhkan waktu tempuh total 6 hingga 7 jam.
“Bagi mereka yang mengutamakan efisiensi waktu, penerbangan menjadi pilihan logis meski dengan biaya yang relatif lebih tinggi,” jelas Mahendra.
Baca juga : Lampung Bakal Ubah 1,16 Ton Sampah Harian Jadi Listrik
Sementara itu, sektor pariwisata Lampung, yang memiliki potensi besar seperti Taman Nasional Way Kambas, Pulau Pahawang, Teluk Kiluan, hingga pesona Gunung Anak Krakatau, belum menjadi penggerak utama lalu lintas udara.
Menurut data Dinas Pariwisata Provinsi Lampung tahun 2023, hanya sekitar 5 hingga 8 persen penumpang di Bandara Radin Inten II yang dapat dikategorikan sebagai wisatawan.
Keterbatasan infrastruktur penunjang, promosi yang belum masif, dan konektivitas antardestinasi di dalam provinsi menjadi tantangan yang perlu diatasi.
Melihat karakter mobilitas yang unik ini, pengembangan Bandara Radin Inten II sebagai gerbang utama Provinsi Lampung menjadi agenda mendesak.
“Sangat penting bagi pemerintah pusat dan daerah untuk mendorong peningkatan kualitas bandara.
“Ini bukan hanya soal melayani wisatawan, tetapi melayani motor penggerak ekonomi daerah,” tegas Mahendra.
Beberapa kebutuhan mendesak yang disorot adalah perluasan terminal, modernisasi fasilitas, peningkatan kenyamanan penumpang, serta implementasi layanan berbasis digital untuk efisiensi.
Lebih jauh, Mahendra menyarankan agar pemerintah mulai merintis pembukaan rute-rute baru yang strategis, seperti ke Batam, Medan, Yogyakarta, atau bahkan rute internasional seperti Singapura.
Langkah ini diyakini akan membuat konektivitas Lampung semakin terbuka dan kompetitif di kancah regional.
“Pada akhirnya, rute Lampung–Jakarta adalah jembatan kehidupan antara pusat dan daerah.
“Menjaga efisiensi dan keselamatannya, serta menghadirkan bandara yang nyaman dan berkelas, sama artinya dengan memperkuat denyut nadi pembangunan Lampung itu sendiri,” tutupnya.
Baca juga : PGEO Mulai Gali Potensi Raksasa Panas Bumi di Jantung Lampung





Lappung Media Network