Lappung – Eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok mencapai puncaknya pada Sabtu, 11 Oktober 2025, setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor tambahan sebesar 100 persen untuk seluruh barang dari Tiongkok.
Kebijakan yang akan berlaku efektif mulai 1 November 2025 ini membuat total tarif menjadi 130 persen, sebuah langkah balasan atas pembatasan ekspor logam tanah jarang (rare earth) oleh Tiongkok yang vital bagi industri teknologi AS.
Meski kebijakan tersebut memicu ketidakpastian ekonomi global, Eksponen 98, Mahendra Utama, melihatnya sebagai peluang strategis bagi komoditas unggulan Provinsi Lampung untuk merebut pasar baru dan memperkuat posisinya.
“Di tengah gejolak ini, Lampung justru memiliki momentum untuk tumbuh lebih kuat,” ujar Mahendra Utama, Mijggu, 12 Oktober 2025.
“Kuncinya adalah strategi yang tepat, fokus pada hilirisasi, dan agresivitas membuka pasar baru,” kata dia lagi.
Posisi Tawar Lampung yang Kuat
Menurut Mahendra, Lampung tidak memulai dari posisi lemah.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung per Februari 2025 menunjukkan neraca perdagangan yang surplus sebesar US$234,31 juta, dengan total nilai ekspor mencapai US$517,93 juta.
Yang lebih menarik, Amerika Serikat ternyata adalah tujuan ekspor terbesar Lampung, menyerap produk senilai US$67,41 juta atau 13,01 persen dari total ekspor.
Angka ini bahkan melampaui Tiongkok yang berada di posisi kedua.
“Data ini menunjukkan bahwa pasar AS sudah sangat mengenal produk kita. Ini adalah modal besar,” tegas Mahendra.
Pandangan ini juga didukung oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Lampung, yang menilai komoditas pertanian sebagai kebutuhan pokok cenderung lebih tahan banting terhadap guncangan tarif.
Peluang kini terbuka lebar bagi Lampung untuk melakukan diversifikasi pasar ke Eropa, Asia, dan Afrika, sekaligus mengisi celah yang ditinggalkan produk Tiongkok di pasar AS.
Rekomendasi Strategis untuk Gubernur
Mahendra Utama mengapresiasi langkah antisipatif yang telah diambil Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, seperti sinergi dengan Jawa Timur untuk memperkuat hilirisasi.
Namun, ia menekankan perlunya percepatan beberapa strategi kunci untuk memaksimalkan peluang.
Baca juga : Kopi, Teh, dan Rempah-Rempah Jadi Primadona, Ekspor Pertanian Lampung Melesat 239 Persen
Pertama, percepat pemetaan dan diversifikasi komoditas.
“Kita harus agresif memetakan komoditas mana yang paling berdaya saing untuk pasar AS dan non-AS.
“Jangan hanya bergantung pada dua raksasa ekonomi ini,” sarannya.
Ia mendorong intensifikasi penetrasi pasar ke Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika.
Kedua, dorong efisiensi dan nilai tambah.
Untuk menjaga daya saing harga, efisiensi biaya produksi menjadi sebuah keharusan.
Mahendra menegaskan komitmen Gubernur untuk hilirisasi harus menjadi prioritas utama.
“Stop ekspor bahan mentah. Ubah jagung, kopi, cokelat, dan lada menjadi produk olahan bernilai tinggi.
“Bangun industrinya di Lampung agar nilai tambahnya dinikmati daerah,” jelasnya.
Ketiga, perkuat sinergi pusat-daerah.
Pemerintah Provinsi didorong untuk proaktif dalam upaya nasional menyederhanakan perizinan dan memperbaiki iklim investasi.
“Biaya logistik kita masih kalah saing dari Vietnam dan Malaysia. Perbaikan infrastruktur logistik daerah menjadi faktor penentu yang krusial,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Eksportir sebagai Pilar Ekonomi Lampung dan Peran Strategis Kepemimpinan Muda





Lappung Media Network