Lappung – Mimpi Gina Dwi Sartika (16) untuk menjadi seorang guru terpaksa terkubur sementara.
Remaja asal Bandarlampung ini putus sekolah diduga kuat akibat trauma berat menjadi korban perundungan (bullying) di sekolahnya, SMP Negeri 13 Bandarlampung.
Baca juga : Siswa SMP di Pesisir Barat Lampung Tewas Ditusuk Gunting oleh Rekan Sekolah
Gina, yang berhenti sekolah pada tahun 2023 saat duduk di bangku kelas 8, mengaku tak kuat lagi menahan malu dan minder karena kerap diejek sebagai anak pemulung oleh teman-temannya.
Kini, hari-hari Gina diisi dengan membantu ibunya, Misna Megawati (42), mencari rongsokan di malam hari demi menyambung hidup.
“Saya sering dibully sama teman saya, mereka menghina orangtua saya pemulung, tukang rongsokan,” tutur Gina, Rabu, 22 Oktober 2025.
Menurut pengakuan sang ibu, Misna, putrinya terpaksa berhenti setelah pihak sekolah memulangkan Gina kepadanya.
“Saya tidak tega anak saya dihina dan dibully hingga akhirnya dipulangkan oleh gurunya kepada saya,” ujar Misna.
Beban psikologis Gina semakin berat setelah bibi yang mengasuhnya sejak kecil meninggal dunia akibat kanker payudara pada 2023.
Sejak saat itu, Gina yang kembali tinggal bersama ibu kandungnya, semakin merasa minder di lingkungan sekolah.
Hidup Tak Layak
Kehidupan Gina dan keluarganya jauh dari kata mudah.
Sebagai orang tua tunggal, Misna harus menghidupi keenam anaknya seorang diri dari hasil memulung botol bekas dan kardus.
Mereka kini tinggal di sebuah rumah kontrakan seharga Rp300 ribu per bulan di Desa Kurungan Nyawa, Pesawaran, yang kondisinya sangat memprihatinkan.
Rumah berdinding bata merah itu belum diplester dan atapnya sering bocor saat hujan.
“Harapan kami, anak saya ini bisa jadi orang dan tidak seperti saya yang hanya mencari rongsokan,” imbuh Misna.
Meski telah 2 tahun tertinggal pelajaran, api harapan Gina untuk kembali ke bangku sekolah belum padam.
Ia masih menyimpan cita-citanya untuk bisa mengubah nasib keluarga.
Anak kedua dari 6 bersaudara ini berharap ada dermawan atau pihak pemerintah yang membantunya kembali mengenyam pendidikan.
Baca juga : Progres Renovasi Sekolah Rakyat di Lampung Lambat, Pembelajaran Diundur
“Ya, mau sekolah lagi kalau ada yang masukin ke sekolah,” ucap Gina.
“Kalau bisa sekolah lagi, saya mau rajin sekolah biar bisa jadi guru atau perawat. Kalau jadi guru, saya bisa ngajarin adek-adek saya. Kalau jadi perawat, saya bisa ngobatin orang,” pungkasnya.
Menanggapi kondisi ini, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandarlampung memastikan akan menjembatani kelanjutan pendidikan Gina.
Namun, Disdik memberikan versi berbeda terkait alasan mundurnya siswi tersebut.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdik Kota Bandar Lampung, Mulyadi, menyatakan bahwa keputusan Gina berhenti bukan murni karena perundungan.
“Kami belum bisa pastikan secara detail (soal bully). Tapi anak ini memang sering tidak masuk sekolah,” kata Mulyadi, Rabu, 22 Oktober 2025.
Menurut Mulyadi, Gina sendiri yang mengutarakan niat untuk beralih ke jalur pendidikan kesetaraan.
“Dia menyampaikan sendiri ingin berhenti karena mau mengikuti sekolah paket,” imbuhnya.
Disdik menegaskan, secara regulasi usia, Gina memang tidak memungkinkan lagi untuk kembali ke bangku SMP reguler.
Oleh karena itu, solusi pendidikan non formal adalah jalur yang akan didukung penuh.
Baca juga : Dipalak Saat Daftar Sekolah? Ombudsman Lampung Buka Jalur Cepat, Adukan di Sini!





Lappung Media Network