Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Sore yang Berbeda di ‘Rumah Ketiga’ Warga Bandarlampung.
Sore yang Berbeda di ‘Rumah Ketiga’ Warga Bandarlampung
Oleh: Mahendra Utama*
Pasar Modern Berwajah Guyub
Pukul 19.02 WIB, langkah saya berhenti di Pasar Raya Lebak Budi. Bukan untuk belanja, tapi menepati janji ngopi dengan Yopie Pangkey (influencer @kelilinglampung), juga owner publikasilampung.id dan Iskandar (Kepala KPH Pesawaran).
Pasar di Jalan Imam Bonjol ini memadukan nuansa UMKM yang hidup dengan manajemen modern. Di sinilah saya merasakan sendiri bagaimana ruang publik ini menjelma menjadi wadah interaksi yang guyub antara penjual dan pembeli.
Aroma nasi goreng ala Minangkabau menyambut saat Mas Yopie yang sudah 10 menit lebih awal, tengah menyantap hidangannya.
Belum sempat duduk, seorang pemilik kedai kopi gesit menawarkan menu. Saya memilih arabika Pesawaran, saran penjual yang meyakinkan, “Biar rasa lebih seger.”
Strategi di Balik Secangkir Kopi
15 menit kemudian, Bang Is (sapaan akrab Iskandar) tiba. Suasana hangat tercipta saat kami saling bertukar bingkisan, saya memberikan beras Rawa Jitu Selatan, beliau membalas dengan kopi dan powder kakao untuk Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
Pasar Raya Lebak Budi memang didesain bukan sekadar tempat transaksi. Manajemennya berinovasi meningkatkan kenyamanan, kebersihan, dan menyediakan lahan parkir luas.
Konsepnya terinspirasi dari pasar Or Tor Kor di Bangkok dan menerapkan pembayaran QRIS untuk memudahkan transaksi non-tunai. Ada 161 lapak dan 48 kios yang buka 24 jam.
Meski sempat ramai, per Februari 2026 pasar ini menghadapi tantangan sepi pengunjung. Namun manajemen tetap optimis menjadikan tempat ini sebagai “rumah ketiga” (third place) warga Bandar Lampung, yaitu ruang interaksi sosial di luar rumah dan tempat kerja.
Geliat Asa Petani Lada
Percakapan serius mengalir di sela hiruk-pikuk pasar. Kami membahas agroforestri, Academy Cacao, hingga strategi hilirisasi hasil hutan di Pesawaran. Pemkot pun disebut telah menyosialisasikan pinjaman tanpa bunga untuk membantu UMKM bertahan.
Namun, satu beban membekas di hati: nasib petani lada yang terkena bencana mati layu akar. “Ini bencana bagi mereka,” ujar saya. Kami berharap ada solusi konkret bagi kesejahteraan petani dan kelestarian hutan kemasyarakatan.
Pukul 22.10 WIB, saya pamit pulang, membawa banyak informasi, dan keyakinan bahwa ruang seperti Pasar Raya Lebak Budi tempat orang bisa ngopi, bermain domino, dan bertukar gagasan adalah fondasi penting pembangunan Lampung. (*)
—————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network