Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Menghubungkan Tokoh Bangsa dan Daerah dalam Peta Bandar Lampung.
Menghubungkan Tokoh Bangsa dan Daerah dalam Peta Bandar Lampung
Oleh: Mahendra Utama*
Penataan nama jalan tidak boleh berhenti pada aspek estetika semata. Ia melingkupi regenerasi simbolik kepemimpinan nasional sekaligus penguatan ikatan daerah.
Dalam teori Place Attachment dari Setha Low dan Irwin Altman, ikatan emosional manusia dengan suatu tempat dibentuk oleh simbol sosial dan memori budaya yang melingkupinya.
Peta Bandar Lampung saat ini didominasi pahlawan asal Aceh seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutia, dan Teuku Umar. Meski mereka adalah pahlawan nasional yang mulia, keterwakilan spektrum kepemimpinan nasional perlu diperluas.
Sosok penting seperti Bung Hatta, BJ Habibie, Gus Dur, Adam Malik, Wahid Hasyim, hingga HM Soeharto relevan diabadikan untuk memperkaya wawasan sejarah generasi muda.
Di sisi lain, penguatan identitas lokal kerap terabaikan. Di kawasan Teuku Umar, kita masih menemukan penamaan jalan bertema binatang seperti Jalan Landak atau Kijang. Padahal, Bandar Lampung adalah rumah bersama bagi warga dari 13 kabupaten/kota di Provinsi Lampung.
Mengganti nama jalan binatang tersebut dengan nama ibu kota kabupaten seperti Kalianda, Kota Agung, Liwa, atau Menggala akan menciptakan Sense of Belonging yang kuat.
Sebagaimana ditegaskan pakar tata kota Jane Jacobs, “Cities have the capability of providing something for everybody, only because, and only when, they are created by everybody.”
Ketika warga daerah melintasi jalan bertajuk ibu kota asalnya di ibu kota provinsi, terbangun rasa kepemilikan dan inklusivitas sosial.
Penataan ini bukan sekadar mengganti plang nama, melainkan strategi kebudayaan untuk merajut integrasi nasional dan lokal dalam ruang keseharian warga Lampung. (*)
—————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network