Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Arahan Mirza, Jihan Orkestrasi Desa Tangguh Bencana.
Arahan Mirza, Jihan Orkestrasi Desa Tangguh Bencana
Oleh: Mahendra Utama*
Erupsi Anak Krakatau yang masih berlangsung hingga awal September 2026 menjadi ujian nyata ketahanan kebencanaan Lampung. Dengan 146 desa terdampak dan 32.415 jiwa yang harus dilindungi, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela bergerak cepat.
Fokus utamanya: mengorkestrasi kekuatan Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai benteng paling depan dalam menghadapi krisis.
Memperkuat Kapasitas di Akar Rumput
Wagub Jihan turun langsung ke titik-titik Destana di Pesawaran dan Lampung Selatan. Bukan sekadar inspeksi seremonial, melainkan pemastian teknis di lapangan.
“Pelatihan-pelatihan di Destana harus menjadi bekal respons ketika kebencanaan terjadi,” tegas Jihan.
Pendekatan ini sejalan dengan teori Community-Based Disaster Risk Management (CBDRM) yang menekankan pentingnya capacity building masyarakat.
Warga tidak boleh menjadi korban pasif; mereka harus mampu membaca ancaman dan bertindak cepat sebelum bantuan eksternal tiba.
Skenario Terburuk dan Navigasi Evakuasi
Arahan Mirza-Jihan mendorong Destana untuk menyusun skenario menghadapi erupsi skala besar hingga potensi tsunami. Hasilnya, Desa Cilimus mengaktifkan sirene peringatan dini dan tenda evakuasi darurat.
Sementara itu, Desa Sukajaya Lempasing memetakan delapan titik evakuasi dengan sistem informasi berjenjang dari RT hingga perangkat desa.
Pengeras suara di masjid pun difungsikan sebagai alat komunikasi massa sebuah adaptasi lokal yang cerdas dan efektif.
Menutup Celah Logistik dan Kesehatan
Pemprov langsung menyalurkan 2.000 masker, 200 hazmat, dan satu konsentrator oksigen. Langkah ini sangat krusial mengingat kesenjangan stok: kebutuhan masker di 16 puskesmas terdampak mencapai 8.780 boks, sementara stok tersisa hanya 3.361 boks.
Jihan juga mengingatkan warga agar menutup rapat wadah makanan dan sumber air bersih. “Kontaminasi abu vulkanik harus kita cegah,” ujarnya.
Ini adalah mitigasi kesehatan nonstruktural yang sering terlupakan dalam hiruk-pikuk evakuasi.
Membangun Budaya Siaga Berkelanjutan
Lebih dari respons darurat, Jihan mendorong setiap keluarga menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) dan memastikan setiap anggota keluarga memahami lokasi evakuasi.
Kebijakan ini membangun disaster literacy fondasi ketangguhan yang tidak lekang oleh waktu. Seperti diamanatkan dalam Kerangka Sendai, kesiapsiagaan adalah investasi yang membayar berkali-kali lipat saat bencana datang.
Orkestrasi Mirza-Jihan membuktikan bahwa ketangguhan bencana lahir dari kerja kolektif yang terukur di tingkat desa. Inilah arah kebijakan yang patut diapresiasi dan dilanjutkan untuk melindungi rakyat Lampung ke depan. (*)
—————————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network