Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Hilirisasi Kemiri Pesawaran: Mengubah Limbah Jadi Berkah, Masyarakat Sejahtera.
Hilirisasi Kemiri Pesawaran: Mengubah Limbah Jadi Berkah, Masyarakat Sejahtera
Oleh: Mahendra Utama*
Dari Bahan Mentah ke Produk Bernilai Tambah
“Petani tidak lagi menjual bahan mentah, tapi produk bernilai tinggi,” tegas Gubernur Rahmat Mirzani Djausal. Nilai ekonomi kemiri berlipat ganda melalui hilirisasi: satu kilogram kemiri mentah hanya Rp10–12 ribu, tetapi jika diolah menjadi minyak murni nilainya mencapai Rp120–150 ribu per liter.
Di Pesawaran, Kemiri kupas, minyak kemiri, dan briket cangkang kemiri telah diproduksi. Minyak kemiri yang dulunya Rp20 ribu per botol kini diolah menjadi Natural Hair Growth Oil dengan harga Rp100 ribu.
Cangkang kemiri yang semula limbah kini menjadi briket bernilai ekonomi tinggi, dibeli pembeli dari Wiyono Pesawaran dan Pringsewu dengan harga kompetitif.
Kolaborasi Pentahelix: Kunci Keberhasilan
KPH tidak bisa bekerja sendiri. Keberhasilan KPH dipengaruhi oleh dukungan banyak pihak. Model kolaborasi pentahelix akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas, dan media—menjadi fondasi.
Di lokasi, saya menyaksikan langsung prototype mesin pemecah cangkang kemiri karya ITERA yang telah diaplikasikan. Dukungan datang dari Pemprov Lampung, Kementerian Kehutanan, ITERA, Unila, Polinela, dan swasta.
Gapoktanhut Pujo Makmur bahkan menjadi laboratorium pendidikan “Hutan Pendidikan Gunung Bunder” bagi universitas, peneliti, dan lembaga swasta.
Tantangan dan Masa Depan
Dirjen Perhutanan Sosial Kemenhut menegaskan, 10 komoditas perhutanan sosial siap dihilirisasi: kopi, kakao, kemiri, arang, kelapa, jambu mete, lada, pala, dan cengkeh. Namun tantangan nyata: permintaan pasar briket cangkang kemiri tinggi sementara produksi petani masih terbatas.
Ke depan, peningkatan nilai tambah semua komoditas agroforestri asal Lampung khususnya KPH Pesawaran memerlukan dukungan positif Kementerian Kehutanan, Pemprov Lampung, perguruan tinggi, BUMN Agro dan Kehutanan, BUMN Himbara, Pemkab Pesawaran, dan kelompok masyarakat peduli hutan.
Dengan kolaborasi yang solid, hilirisasi bukan sekadar wacana, tetapi kenyataan yang menyejahterakan rakyat dan menjaga hutan untuk generasi mendatang. (*)
——————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network