Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang berjudul: Mengapa Lampung? Strategi Rantai Dingin ID Food dan Danantara.
Mengapa Lampung? Strategi Rantai Dingin ID Food dan Danantara
Oleh: Mahendra Utama*
Lampung Dipilih Bukan Tanpa Alasan
Usulan ID Food membangun cold storage berskala besar di tujuh lokasi, termasuk Lampung, adalah langkah strategis untuk stabilisasi pangan.
Lampung dipilih karena posisinya sebagai lumbung agrikultur nasional, khususnya peternakan dan perikanan.
Provinsi ini bahkan menjadi pionir hilirisasi ayam terintegrasi nasional melalui skema Danantara, dengan pembangunan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan cold storage di Kebun Kedaton, Lampung Selatan.
Data menunjukkan Lampung mengirimkan 16 juta ekor ayam hidup keluar daerah setiap tahun, sehingga kehadiran cold storage memungkinkan perubahan tata niaga menuju produk olahan bernilai tambah.
Teori Rantai Dingin dan Argumentasi Efisiensi
Dalam perspektif cold chain theory, infrastruktur pendingin yang terintegrasi memutus mata rantai penurunan mutu komoditas perishable seperti ayam dan ikan.
Tanpa fasilitas ini, fluktuasi suhu dan keterlambatan penanganan menggerus nilai ekonomi hasil peternakan dan perikanan.
Ironinya, meskipun Lampung memiliki surplus ikan tahunan 220.299 ton, cold storage yang ada masih kurang termanfaatkan.
Oleh karena itu, pembangunan berskala besar ini menjawab paradoks tersebut, sekaligus mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan protein hewani stabil.
Apresiasi untuk Para Pemangku Kepentingan
Apresiasi patut diberikan kepada Danantara dan ID Food yang telah mendorong investasi strategis ini, serta kepada Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal yang secara konkret menyiapkan infrastruktur pendukung.
Gubernur Mirza bahkan menggandeng PLN untuk menjamin pasokan listrik bagi cold storage, menyadari bahwa fasilitas ini membutuhkan energi andal untuk menjaga kualitas produk pertanian.
Sinergi antara BUMN pangan, sovereign wealth fund, dan pemerintah daerah inilah yang menjadi kunci keberhasilan hilirisasi pangan di daerah. (*)
‐——————————————–‐——————–
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network