Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang berjudul: Katibung: Growth Pole atau Enklave Energi Baru Lampung?
Katibung: Growth Pole atau Enklave Energi Baru Lampung?
Oleh: Mahendra Utama*
Percepatan Kawasan Industri Katibung di Lampung Selatan bukan sekadar proyek infrastruktur. Di dalamnya melekat ambisi menjadikan kawasan ini pusat kilang minyak, hilirisasi oleokimia, petrokimia, dan terminal khusus, dengan studi kelayakan dikejar rampung sebelum Desember 2026 dan groundbreaking di awal–pertengahan 2027.
Namun, pertanyaan kritisnya: akankah Katibung menyebarkan kemajuan ke sekitarnya, atau justru tumbuh sebagai pulau modern di tengah wilayah yang tertinggal?
Kerangka Growth Pole yang Menggoda
Francois Perroux menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berlangsung merata, melainkan berpusat pada “kutub-kutub” tertentu yang kemudian menyebarkan dampaknya ke wilayah lemah.
Dalam kerangka ini, kilang berkapasitas 300.000 barel per hari dan klaster oleokimia di Katibung dapat dibaca sebagai propulsive industry unit penggerak yang menarik aktivitas ekonomi turunan.
Teori ini telah lama menjadi pembenaran bagi negara berkembang untuk memusatkan investasi pada kawasan industri strategis.
Keunggulan yang Terlalu Terpusat
Daya tarik Katibung memang konkret: pelabuhan alami berkedalaman sekitar 24 meter memungkinkan Very Large Crude Carrier bersandar langsung, memangkas biaya logistik secara signifikan.
PT Menamas pun menyatakan kesiapan teknologi, pendanaan, dan pemasaran, dengan dukungan Samko Holdings Luxembourg Ltd. Namun, Perroux sendiri mengakui risiko polarization effect: kemajuan ekonomi dan teknologi berhenti di kutub pertumbuhan tanpa menyerap wilayah lain secara efektif.
Tanpa koreksi, Katibung berpotensi menjadi enklave energi yang makmur secara internal tetapi kering bagi hinterland-nya.
Kuncinya Ada pada Linkage, Bukan Sekadar Kilang
Albert Hirschman mengingatkan bahwa manfaat kutub pertumbuhan hanya menyerap aktor lokal jika forward dan backward linkages benar-benar bekerja.
Hilirisasi oleokimia semestinya membuka pasar bagi komoditas perkebunan rakyat; terminal khusus semestinya menghidupkan logistik dan UMKM sekitar, bukan hanya jalur ekspor korporasi.
Jika linkages ini dibiarkan lemah, yang tumbuh adalah ketimpangan yang terlembaga, bukan kesejahteraan yang menetes.
Katibung layak dipercepat. Tetapi percepatan yang berkeadilan menuntut kebijakan yang aktif mengikat kilang raksasa itu pada ekonomi Lampung bukan membiarkannya berdiri megah di atas wilayah yang hanya menjadi penonton. (*)
——————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.




Lappung Media Network