Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Gerbang Sumatera Berbayar Mahal: Mengapa Biaya Logistik Lampung Tak Pernah Kompetitif.
Gerbang Sumatera Berbayar Mahal: Mengapa Biaya Logistik Lampung Tak Pernah Kompetitif
Oleh: Mahendra Utama*
Lampung, Pintu Masuk yang Terjebak Biaya Tinggi
Sebagai pintu gerbang utama pulau Sumatera, Lampung seharusnya menjadi episentrum efisiensi logistik.
Faktanya, biaya logistik di provinsi ini justru menjadi salah satu yang paling membebani di kawasan Sumatera.
Data Kemenko Perekonomian mencatat biaya logistik nasional masih berada di kisaran 14,29–14,5 persen terhadap PDB pada 2025 jauh di atas negara-negara ASEAN.
Untuk wilayah Sumatera, angka ini bahkan menyentuh 20 persen, dan Lampung berada di jantung problematika tersebut.
Tol Bakter: Tol Termahal dengan Jalan Terburuk
Biaya tol ruas Bakauheni–Terbanggi Besar (Bakter) menjadi ilustrasi paling gamblang. Pada November 2025, tarif jarak terjauh 140 km mencapai Rp254.000 untuk golongan I.
Rata-rata tarif per km melonjak dari Rp800 (2019) menjadi Rp1.800 per km kenaikan lebih dari 100 persen dalam enam tahun. ALFI Lampung bahkan menyebut tol ini sebagai “tol termahal di Indonesia dengan infrastruktur yang kurang baik”.
Dampaknya? Biaya operasional truk naik 4–6 persen dan harga barang ikut terkerek.
Infrastruktur Darat vs Kepulauan: Beban Ganda Lampung
Berbeda dengan Kepulauan Riau (Kepri) dan Bangka Belitung (Babel) yang mengandalkan transportasi laut antar-pulau, Lampung sangat bergantung pada jalur darat yang menyumbang 73 persen biaya transportasi logistik.
Sektor transportasi dan pergudangan Lampung memang tumbuh 16,66 persen pada 2023, namun pertumbuhan ini justru mencerminkan tingginya biaya yang harus ditanggung pelaku usaha bukan efisiensi.
Kesenjangan Tarif yang Mencolok
Perbandingan tarif ekspedisi dari Jakarta mengungkap fakta menarik: ke Lampung Rp10.500/kg, ke Palembang hanya Rp2.500/kg, sementara ke Padang Rp6.000/kg.
Ironisnya, Lampung yang lebih dekat dengan Jawa justru memiliki tarif lebih tinggi daripada Sumatera Selatan. Inilah paradoks geografis yang menghantui daya saing Lampung. (*)
—————————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network