Lappung – Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Lampung angkat bicara menyusul hebohnya temuan cengkeh asal Lampung yang diduga terkontaminasi zat radioaktif Cesium-137 (Cs-137) di Amerika Serikat.
Baca juga : Satu Perkebunan di Lampung Jadi Sumber Paparan Cesium-137, Pemerintah Buru Asal Kontaminasi
Kepala Balai Karantina Lampung, Donni Muksydayan, menegaskan bahwa ekspor cengkeh tersebut tidak dilakukan secara langsung dari Lampung.
“Cengkeh ini ekspornya dari Surabaya, tidak langsung dari Lampung,” kata Donni Muksydayan, dikutip pada Kamis, 23 Oktober 2205.
Meski begitu, Donni membenarkan bahwa cengkeh tersebut memang berasal dari Lampung.
Komoditas itu dikirim atau di drop ke Surabaya terlebih dahulu sebelum akhirnya diekspor ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, yang kemudian menemukan adanya unsur radioaktif.
“Jadi kan rantai pasoknya banyak, tapi sumber cengkeh yang dibeli salah satunya dari Lampung. Tapi kami pastikan ekspor cengkeh langsung ke Amerika dari Lampung tidak ada,” tegasnya.
Donni menjelaskan, selama ini Karantina Lampung hanya menangani dan melayani peredaran cengkeh untuk kebutuhan pasar domestik, bukan untuk ekspor langsung ke negara tujuan seperti AS.
“Selama ini cengkeh yang kami layani di Karantina Lampung itu masih untuk pasar domestik,” ujarnya.
Temuan kontaminasi radioaktif ini, menurut Donni, merupakan hal baru dan tidak termasuk dalam protokoler pemeriksaan karantina yang standar.
“Cemaran ini temuan baru. Maka dari itu kita harus hormati,” katanya.
Baca juga : Kopi Sangrai Lampung Tembus Hong Kong, Sejarah Baru Ekspor Produk Olahan
Menyikapi situasi ini, pihak Karantina Lampung telah berkoordinasi dengan para pelaku usaha.
Sambil menunggu rekomendasi resmi dari Satuan Tugas (Satgas) Pusat, para eksportir diminta untuk menunda sementara pengiriman cengkeh khusus ke Amerika Serikat.
“Kami sudah komunikasi dan bertemu dengan pelakunya, untuk sementara mereka diminta untuk tunda ekspor cengkih khusus ke Amerika. Kalau (ke) daerah lain masih (bisa),” jelas Donni.
Sebelumnya, Satuan Tugas Penanganan Kerawanan Bahaya Radiasi Radionuklida Cesium-137 (Satgas Penanganan Cs-137) mengumumkan temuan ini.
Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi Satgas, Bara Krishna Hasibuan, menyatakan hanya 1 dari 12 kontainer cengkeh yang dikirim ke AS yang diduga atau suspect terkontaminasi Cs-137.
Kontainer tersebut dijadwalkan akan tiba kembali di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada 29 Oktober 2025 untuk pemeriksaan menyeluruh.
11 kontainer lainnya yang masih dalam perjalanan juga telah diperintahkan untuk kembali.
Satgas, melalui Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), telah menelusuri 6 lokasi di Lampung Selatan, termasuk industri peleburan logam, gudang pengepul, dan perkebunan cengkeh.
Hasilnya, kontaminasi Cs-137 memang terdeteksi pada sebagian kecil komoditas cengkeh di area tersebut.
Kendati demikian, Satgas menyatakan tingkat paparan radiasi masih sangat rendah dan tidak menimbulkan dampak kesehatan langsung bagi warga.
Meskipun fasilitas pengolahan di Surabaya dan Pati, serta komoditas lain seperti kopi dan coklat di Lampung dinyatakan aman, Satgas merekomendasikan agar cengkeh dari area terdampak tidak diperdagangkan sampai hasil uji laboratorium BRIN keluar secara resmi.
Baca juga : Kopi, Teh, dan Rempah-Rempah Jadi Primadona, Ekspor Pertanian Lampung Melesat 239 Persen





Lappung Media Network