Lappung – Titik terang misteri cengkeh Indonesia yang terkontaminasi radioaktif akhirnya terungkap.
Pemerintah memastikan sumber paparan zat radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada produk cengkeh yang ditolak Amerika Serikat (AS) berasal dari salah satu perkebunan di Lampung.
Baca juga : 303000 Hektare Hutan Lampung Lenyap dalam 2 Dekade
Hal itu sekaligus menepis dugaan awal yang mengarah ke pabrik pengolahan di Surabaya.
Kepastian ini disampaikan langsung oleh Ketua Divisi Bidang Diplomasi dan Komunikasi Publik Satgas Penanganan Cs-137, Bara Hasibuan.
Temuan tersebut merupakan hasil penelusuran cepat tim gabungan pasca laporan dari US Food and Drug Administration (FDA).
“Kami bisa memberikan konfirmasi bahwa ditemukan kontaminasi di perkebunan di Lampung.
“Namun, penting untuk dicatat, kontaminasi tersebut ditemukan dalam jumlah terbatas dan tidak meluas ke wilayah atau komoditas lainnya,” tegas Bara, dikutp pada Selasa, 14 Oktober 2025.
Tim gabungan dari Satgas dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) sebelumnya telah memeriksa tiga lokasi vital, pabrik pengolahan di Surabaya, serta 2 area sumber pasokan cengkeh di Pati, Jawa Tengah, dan Lampung.
Hasilnya, hanya area perkebunan di Lampung yang menunjukkan adanya paparan radioaktif.
Sebagai langkah mitigasi dan kehati-hatian, pemerintah mengambil tindakan cepat.
Satgas merekomendasikan agar seluruh produk cengkeh yang terindikasi berasal dari area terkontaminasi untuk tidak diperjualbelikan sementara waktu.
“Pemerintah sedang bergerak cepat melokalisir kontaminasi ini agar tidak meluas.
“Masyarakat dan pelaku usaha kami imbau untuk tetap tenang dan menunggu hasil uji laboratorium resmi yang lebih komprehensif,” jelas Bara.
Pemerintah berjanji akan terus memberikan informasi terkini secara transparan kepada publik untuk menghindari kesimpangsiuran informasi.
Baca juga : Kementan Kucurkan Rp180 Miliar, Lampung Jadi Target Utama Hilirisasi Pangan
Saat ini, tim investigasi BAPETEN masih bekerja di lapangan untuk memburu sumber pasti yang menyebabkan perkebunan tersebut terpapar Cesium-137.
Bara menyebutkan, hasil sementara belum menunjukkan adanya keterkaitan dengan aktivitas industri logam.
Hal ini membedakannya dari kasus paparan radioaktif sebelumnya yang ditemukan di Kawasan Industri Modern Cikande, Banten.
Saat itu, sumber kontaminasi berhasil diidentifikasi berasal dari material logam bekas.
“Investigasi di Lampung masih berjalan untuk mengidentifikasi sumber pasti kontaminasi tersebut. Belum ada indikasi terkait dengan aktivitas industri seperti kasus sebelumnya,” tambahnya.
Sekadar informasi, kasus kontaminasi radioaktif pada komoditas ekspor Indonesia pertama kali mencuat pada Agustus 2025, ketika AS menolak produk udang beku karena terdeteksi mengandung unsur radioaktif.
Penelusuran kemudian mengarah pada temuan Cs-137 di Cikande, Serang, Banten, yang kini aksesnya telah ditutup untuk proses dekontaminasi.
Baca juga : 70 Persen Kekayaan Lampung Dinikmati Pihak Luar





Lappung Media Network