Lappung – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengungkap fakta ekonomi yang mengkhawatirkan.
Sekitar 70 persen perputaran uang dari hasil komoditas unggulan Provinsi Lampung justru mengalir dan dinikmati oleh pihak luar daerah.
Baca juga : APBD 2026 Lampung Fokus 3 Sektor: Ekonomi, Jalan, dan Pendidikan Gratis
Fenomena kebocoran ekonomi ini disebutnya sebagai akar dari masalah kemiskinan dan rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Bumi Ruwa Jurai.
Untuk membalikkan keadaan, Gubernur Mirza menggandeng Institut Teknologi Sumatera (Itera) sebagai mitra strategis.
Kolaborasi itu difokuskan untuk menginisiasi hilirisasi dan industrialisasi berbasis desa, dengan harapan nilai tambah dari komoditas Lampung bisa sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat lokal.
“Jika rantai produksi dari hulu ke hilir dikelola masyarakat Lampung, pendapatan per kapita kita bisa meningkat tajam.
“Tapi kenyataannya, 70 persen uang dari Provinsi Lampung justru mengalir keluar daerah. Ini yang memicu kemiskinan,” tegas Mirza, dilansir pada Rabu, 3 September 2025.
Baca juga : Perkuat Ekonomi Regional, Lampung Ajak Jawa Timur Untung dan Berkembang Bersama
Menurut Mirza, Lampung tidak bisa lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah untuk industri di luar daerah.
Komoditas strategis seperti singkong, jagung, padi, kopi, dan cokelat harus diolah di dalam provinsi untuk menciptakan nilai tambah maksimal.
Solusi yang ditawarkan adalah pembangunan ekonomi dari bawah (bottom up economy) melalui industrialisasi skala desa.
“Kita harus berani memulai. Misalnya, desa-desa punya alat pengering hasil panen sendiri, singkong tidak lagi dijual gelondongan tapi diolah menjadi mocaf (modified cassava flour), dan jagung bisa diproses menjadi pakan ternak lokal,” jelasnya.
Konsep ini, lanjutnya, akan menarik aliran uang dari kota ke desa dan memastikan kekayaan daerah berputar untuk kesejahteraan warganya sendiri.
Sementara, Rektor Itera, I Nyoman Pugeg Aryantha, menyambut hangat inisiatif Gubernur dan menyatakan kesiapan penuh Itera untuk menjadi motor penggerak inovasi teknologi di Lampung.
Baca juga : Lampung Jadi Juara 3 Pertumbuhan Ekonomi, Dijuluki The King of Sumatera oleh BI
“Kami ingin Itera hadir bukan hanya sebagai kampus, tetapi sebagai pusat inovasi yang menjawab kebutuhan pembangunan Lampung dan Indonesia,” ujar Rektor Nyoman.
Selain itu, Rektor juga mengajak Gubernur Mirza meninjau langsung sejumlah inovasi unggulan Itera, seperti pengembangan Padi Lahan Kering yang menjadi solusi atas penyusutan lahan sawah, Gedung Pusat Riset dan Inovasi IWACI, hingga Kebun Raya Itera.
Rektor memaparkan bahwa Itera memiliki puluhan program studi dan berbagai pusat riset, mulai dari teknologi pangan, energi baru terbarukan, bioteknologi, hingga observatorium antariksa.
“Kolaborasi dengan Pemprov Lampung sudah kami bangun sejak 2019, dan kami siap memperluas sinergi ini di bidang riset pangan, energi, lingkungan, hingga pemerataan ekonomi wilayah,” tandasnya.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Lampung 2025: Momentum yang Tidak Boleh Dilewatkan





Lappung Media Network