Lappung – Indonesia berpeluang emas untuk bertransformasi menjadi motor penggerak utama ekonomi ASEAN dalam 5 tahun ke depan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Di tengah tantangan ekonomi global seperti proteksionisme dan rivalitas negara adidaya, posisi strategis Indonesia dinilai akan menjadi penentu stabilitas kawasan.
Baca juga : Pasca Gejolak: Dampak Stabilitas Nasional pada IHSG dan Rupiah
Menurut pemerhati dan Eksponen 98, Mahendra Utama, setidaknya ada 3 pilar utama yang jika dijalankan secara konsisten akan membawa Indonesia melampaui negara-negara tetangga.
3 pilar tersebut adalah hilirisasi sumber daya alam yang terintegrasi, stabilitas politik yang kokoh, dan diplomasi ekonomi yang cerdas.
“Pertanyaan kuncinya adalah apakah kebijakan Presiden Prabowo cukup untuk membawa Indonesia menjadi pemimpin ekonomi ASEAN.
“Jawabannya, sangat potensial jika 3 fondasi utama ini dikelola dengan baik,” ujar Mahendra dalam analisisnya, Rabu, 3 September 2025.
Hilirisasi, Mesin Baru Pencipta Nilai Tambah
Mahendra menjelaskan, langkah paling krusial adalah kelanjutan program hilirisasi sumber daya alam yang kini diperkuat dengan penekanan pada integrasi industri.
Menurutnya, kebijakan Prabowo tidak lagi sekadar melarang ekspor bahan mentah, tetapi fokus menarik investasi untuk membangun industri pengolahan dari hulu ke hilir.
Baca juga : Membubarkan DPR/DPRD: Gagasan Emosional, Bukan Solusi Demokrasi
“Fokusnya sekarang adalah menciptakan nilai tambah. Mulai dari ekosistem baterai listrik, produksi baja hijau, hingga pengembangan pupuk modern.
“Jika ini konsisten, posisi Indonesia akan berubah total, dari sekadar penjual bahan mentah menjadi pencipta produk bernilai tinggi di ASEAN,” jelasnya.
Strategi ini diyakini dapat memperkuat struktur ekonomi nasional dan menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi utama di kawasan Asia Tenggara.
Stabilitas Politik: Aset Paling Dicari Investor
Faktor kedua yang menjadi aset tak ternilai bagi Indonesia, kata Mahendra, adalah stabilitas politik.
Kondisi ini menjadi pembeda utama jika dibandingkan dengan negara ASEAN lain seperti Thailand yang kerap dilanda konflik politik atau Myanmar yang masih terjebak dalam krisis internal.
Ia menyoroti terbentuknya koalisi pemerintahan yang solid, di mana hampir seluruh partai politik besar bergabung.
Ditambah lagi dengan peran tokoh agama yang turut menjaga keseimbangan sosial di masyarakat.
“Bagi investor jangka panjang, stabilitas politik seringkali jauh lebih berharga daripada sekadar insentif pajak.
“Ini adalah jaminan keamanan investasi yang tidak dimiliki banyak negara saat ini,” tegas Mahendra.
Baca juga : Gerak Cepat Prabowo Subianto dan Jalan Lapang Reformasi 2025
Kemandirian Pangan dan Energi untuk Redam Inflasi
Pilar ketiga yang menjadi sorotan adalah upaya menuju kemandirian pangan dan energi.
Mahendra menilai, program lumbung pangan (food estate), modernisasi irigasi, dan efisiensi distribusi pupuk adalah langkah strategis untuk mengamankan kebutuhan domestik.
Di saat yang sama, kebijakan diversifikasi energi melalui biofuel dan gasifikasi batu bara diharapkan mampu menekan ketergantungan pada impor yang rentan terhadap gejolak harga global.
“Langkah ini sangat vital untuk meredam risiko inflasi dari barang impor, sebuah masalah yang masih menghantui Filipina dan negara lainnya.
“Dengan fondasi pangan dan energi yang kuat, ekonomi kita lebih tahan banting,” tambahnya.
Tantangan yang Wajib Diwaspadai
Namun, Mahendra mengingatkan bahwa jalan menuju kepemimpinan ekonomi ASEAN bukannya tanpa tantangan.
Ia menggarisbawahi tiga isu mendesak yang harus segera dijawab oleh pemerintahan Prabowo:
Kepastian Hukum dan Reformasi Birokrasi: Memastikan iklim investasi benar-benar kondusif dan bebas dari hambatan birokrasi yang berbelit.
Peningkatan Kualitas SDM: Mempersiapkan tenaga kerja terampil untuk menyambut bonus demografi agar tidak menjadi beban.
Disiplin Fiskal: Mengelola anggaran negara dengan cermat agar belanja besar, termasuk untuk pertahanan dan subsidi, tidak menyebabkan defisit yang membahayakan stabilitas ekonomi makro.
“Dengan hilirisasi yang konsisten, stabilitas yang terjaga, dan diplomasi yang luwes, Indonesia punya peluang menyalip Vietnam dalam industrialisasi dan melampaui Malaysia dalam stabilitas,” kata Mahendra.
“Jika ketiga faktor utama itu berjalan seimbang, maka Indonesia tidak hanya akan lebih baik, tetapi juga layak menjadi leading power di Asia Tenggara,” pungkasnya.
Baca juga : Dari Kekacauan Agustus Menuju September Kondusif





Lappung Media Network