Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Mengapa Ekspor Kakap Putih Malaysia ke Thailand Macet Total?
Mengapa Ekspor Kakap Putih Malaysia ke Thailand Macet Total?
Oleh: Mahendra Utama*
Ketatnya Standar Biosekuriti dan Residu Kimia Menghentikan Laju Truk Barramundi Penang
Perdagangan komoditas perikanan di Asia Tenggara sedang mengalami guncangan hebat.
Jalur distribusi darat yang biasanya sibuk membawa puluhan ton ikan kakap putih (sea bass atau barramundi) dari kawasan penangkaran dan pengepulan di Penang serta Sungai Udang, Malaysia menuju Thailand, mendadak lumpuh total.
Kebijakan pengetatan inspeksi sepihak yang diberlakukan oleh otoritas karantina Thailand menjadi pemicu utama berhentinya arus ekspor yang bernilai jutaan ringgit tersebut.
Jeratan Isu Residu Antibiotik dan Dampak Efek Domino
Otoritas keamanan pangan Thailand menerapkan pemeriksaan laboratorium yang sangat ketat terhadap komoditas perikanan asal Malaysia setelah muncul dugaan adanya residu bahan kimia dan kontaminasi antibiotik yang melebihi ambang batas aman konsumen.
Setiap pengiriman truk kini wajib melalui masa karantina penahanan sampel hingga 20 hari di perbatasan guna menunggu hasil uji keluar.
“Banyak pengusaha terpaksa menghentikan pengapalan karena penundaan logistik di perbatasan menyebabkan kualitas ikan segar menurun drastis dan membusuk sebelum sampai ke tangan pembeli,” ujar perwakilan Asosiasi Pengusaha Perikanan Malaysia.
Sengketa dagang ini memicu aksi balasan (tit-for-tat protectionism), di mana pihak Malaysia turut membatasi impor beberapa jenis udang dari Thailand dengan dalih kontrol biosekuriti yang setara.
Menurut teori keunggulan komparatif (Comparative Advantage Theory), hambatan non-tarif (non-tariff barriers) berupa regulasi sanitasi dan fitosanitasi (SPS) yang terlampau rigid dapat seketika mematikan keunggulan biaya logistik regional.
Kebergantungan pasar ekspor Malaysia yang terlalu terpusat pada pasar domestik Thailand terbukti memicu kerapuhan ekonomi yang besar bagi para nelayan setempat. (*)
——————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network