Lappung – Indonesia berhasil melewati periode genting di akhir Agustus 2025, mengubah kekacauan yang meluas menjadi stabilitas yang terkendali di awal September.
Eksponen 98 sekaligus pemerhati sosial politik, Mahendra Utama, respons cepat dan empatik dari kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kedewasaan gerakan mahasiswa, serta profesionalisme aparat keamanan menjadi pilar utama dalam meredam gejolak nasional yang dipicu oleh kontroversi tunjangan perumahan DPR.
Baca juga : Affan Kurniawan, Tulang Punggung Keluarga Asal Lampung, Tewas di Tengah Demo Ricuh
“Apa yang kita saksikan di akhir Agustus adalah ujian nyata bagi demokrasi kita.
“Namun, cara bangsa ini meresponsnya menunjukkan bahwa ada harapan untuk pemulihan dan reformasi,” ujar Mahendra Utama, Minggu, 31 Agustus 2025.
Tragedi yang Memicu Amarah Nasional
Gelombang protes yang bermula pada 25 Agustus 2025 awalnya hanya berpusat pada penolakan kebijakan tunjangan perumahan bagi anggota dewan.
Namun, situasi memanas secara drastis setelah insiden tragis pada 28 Agustus.
Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, tewas tertabrak kendaraan taktis Brimob di tengah aksi massa.
Peristiwa ini menjadi pemantik kemarahan publik yang lebih besar dan menyulut api solidaritas di berbagai daerah.
Dalam hitungan hari, eskalasi tak terhindarkan. Aksi massa meluas, sejumlah gedung DPRD di daerah dilaporkan dibakar, korban jiwa mulai berjatuhan, dan berbagai fasilitas publik rusak.
Baca juga : Jakarta, Episentrum Demonstrasi dan Getaran Republik
Aktivitas transportasi di kota-kota besar lumpuh, menciptakan ketidakpastian dan kekhawatiran mendalam di tengah masyarakat.
Langkah Tegas dan Empatik Presiden Prabowo
Di tengah krisis yang memuncak, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah strategis yang dinilai berhasil meredakan ketegangan.
Ia tidak hanya menunjukkan ketegasan, tetapi juga empati yang menyentuh nurani publik.
Presiden segera mengunjungi keluarga almarhum Affan Kurniawan untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung.
Dalam pernyataannya yang disiarkan luas, Prabowo memerintahkan investigasi transparan atas insiden tersebut.
“Saya terkejut dan kecewa atas tindakan berlebihan aparat. Saya telah memerintahkan agar insiden tadi malam diselidiki secara menyeluruh dan transparan. Petugas yang terlibat harus bertanggung jawab,” tegas Presiden Prabowo.
“Negara akan menjamin kesejahteraan keluarga itu, dan perhatian khusus diberikan kepada orang tua dan saudaranya,” tambahnya.
Menurut Mahendra, langkah ini menjadi titik balik krusial.
Baca juga : Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta
“Permintaan maaf publik, jaminan akuntabilitas, dan sentuhan kemanusiaan dari seorang pemimpin negara berhasil memulihkan sebagian kepercayaan masyarakat yang sempat terkoyak,” analisisnya.
3 Pilar Penjaga Stabilitas
Mahendra Utama menyoroti 3 elemen kunci yang bekerja sinergis dalam menavigasi krisis, yakni mahasiswa, Polri, dan TNI.
1. Gerakan Mahasiswa yang Matang:
Mahasiswa sebagai motor penggerak aksi menunjukkan kedewasaan politik.
“Mereka kritis terhadap ketidakadilan, namun tetap konsisten menjaga koridor aksi damai dan menahan diri dari reaksi destruktif. Ini adalah bentuk solidaritas publik yang terukur,” jelas Mahendra.
2. Pendekatan Persuasif Polri:
Di bawah komando Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Polri berjanji akan mengusut tuntas semua insiden yang terjadi.
“Kami akan menangani semuanya satu per satu, kami akan menyelidiki dengan serius semua masalah yang muncul,” kata Kapolri dalam sebuah kesempatan.
Di lapangan, banyak aparat menunjukkan pendekatan persuasif dalam mengawal aksi, sebuah langkah yang patut diapresiasi.
3. Profesionalisme TNI: Panglima TNI:
Jenderal Agus Subiyanto memastikan institusinya bergerak secara profesional.
Sesuai perintah Presiden untuk menindak tegas tindakan anarkis, TNI AD dikerahkan membantu Polri menjaga objek vital.
“Pengerahan TNI bukan dalam konteks mengambil alih, melainkan sebagai penopang stabilitas. Ini adalah langkah yang bijak untuk memulihkan rasa aman tanpa memicu ketegangan baru,” tambah Mahendra.
Peluang Reformasi dari Puing Kekacauan
Kini, saat situasi berangsur kondusif, Indonesia dihadapkan pada momentum untuk melakukan perbaikan fundamental.
Mahendra berpendapat bahwa krisis Agustus 2025 harus menjadi refleksi bersama.
“Kekacauan ini bukan akhir, tetapi bisa menjadi awal dari sebuah tatanan baru yang lebih baik.
“Solidaritas lahir dari luka, dan dialog muncul dari konflik.
“Inilah saatnya pemerintah membuka dialog politik yang lebih luas, memperbaiki kebijakan yang tidak pro-rakyat, dan memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga,” tutupnya.
Jalan menuju September yang kondusif membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang responsif dan partisipasi publik yang konstruktif, demokrasi Indonesia mampu melewati ujian terberat sekalipun.
Baca juga : Jakarta Berguncang, Daerah Bergejolak





Lappung Media Network