Lappung
Lappung Media Network Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    No Result
    View All Result
    Lappung
    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai

    Home » Gaya Hidup » Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

    Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

    Irzon Dwi Darma by Irzon Dwi Darma
    30/08/2025
    in Gaya Hidup
    Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

    Ilustrasi Affan Kurniawan. Foto: Net

    Share on FacebookShare on Twitter

    Lappung – Puisi “Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta” adalah sebuah elegi modern yang menyuarakan duka dan amarah atas tewasnya seorang warga sipil biasa di tengah kekacauan sosial-politik.

    Puisi ini menceritakan kisah tragis Affan Kurniawan, seorang perantau muda dari Lampung yang bekerja sebagai pengantar makanan di Jakarta.

    Baca juga : Puisi untuk Dony Oskaria

    Ia digambarkan sebagai sosok pekerja keras dengan mimpi sederhana, menabung untuk membeli tanah dan membangun rumah bagi ibunya.

    Namun, takdirnya berubah saat ia secara nahas terjebak dalam sebuah kerusuhan di Pejompongan, yang digambarkan melibatkan amuk massa dan aparat negara.

    Affan, yang bukan seorang demonstran melainkan hanya seorang pekerja yang sedang bertugas, menjadi korban tewas akibat kekerasan yang dilakukan oleh pihak yang seharusnya melindunginya.

    Lebih dari sekadar ratapan personal, puisi ini merupakan kritik tajam terhadap negara dan penguasa.

    Penulis, yang mrupakan Eksponen 98, menarik garis paralel antara tragedi yang menimpa Affan pada Agustus 2025 dengan peristiwa kelam Reformasi 1998.

    Melalui perspektif ini, kematian Affan bukan lagi dilihat sebagai insiden biasa, melainkan sebuah pola kekerasan negara yang berulang terhadap rakyat kecil.

    Puisi ini menolak narasi resmi dan janji-janji kosong pemerintah (akan kami usut tuntas) karena pengalaman masa lalu telah mengajarkan ketidakpercayaan.

    Baca juga : Sang Pelurus Asam Pucuk, Puisi untuk Guru Besar PTPN

    Pada akhirnya, Affan Kurniawan diangkat menjadi simbol perlawanan suara bagi mereka yang tak bersuara dan luka bagi seluruh rakyat yang tertindas serta menjadi pemantik seruan untuk keadilan (JUSTICE FOR AFFAN!) yang menggema sebagai pengingat bahwa nyawa rakyat tidak boleh dianggap murah oleh kekuasaan yang lalim.

    Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

     

    Di sudut Jakarta yang mengeras oleh deru

    Kau terbaring, wahai anak Lampung yang pekat mimpi

    Dengan sepeda motor dan boks nasi hangat

    Kau berkelana di antara gedung-gedung yang menjulang sombong

    Menghantar roti untuk orang yang kenyang

    Sementara kau menabung untuk sepetak tanah

    Yang tak pernah kau datangi lagi.

     

    Hari itu langit kelabu menyelimuti ibu kota

    Suara benturan, teriakan, dan lolosan peluru

    Mengepung ruas-ruas jalan di Pejompongan

    Lalu kau datang—bukan sebagai pemberontak

    Tapi sebagai pengantar yang setia

    Terjebak di antara amuk massa dan besi baja

    Yang tak kenal ampun.

     

    Darahmu muncrat di aspal yang panas

    Tubuhmu remuk di bawah roda-roda yang dibela negara

    Matamu terpejam, masih menyimpan heran:

    “Mengapa negeri membunuh anaknya yang lapar

    Bukan membagikan nasi, tetapi timah dan besi?”

     

    Wahai Affan, saudaraku, korban zaman

    Kau yang hanya ingin membangun rumah untuk ibumu

    Kini jadi bunga beton yang layu sebelum mekar

    Kau yang setiap hari menghitung rupiah untuk adik-adikmu

    Kini jadi deretan angka di berita malam

    Yang cepat terlupa.

     

    Aku menulis untukmu dari sudut sejarah yang kelam

    Aku, yang pernah mendengar teriakan serupa di tahun 98

    Saat mahasiswa tertembak, dan reformasi digantung

    Sekarang kau—pengendara gojek yang bersih hati—

    Jadi martir baru di malapetaka Agustus 2025

    Dibunuh oleh yang seharusnya menjagamu.

     

    Mereka bilang ini “insiden”

    Mereka bilang “akan kami usut tuntas”

    Tapi kami sudah terlalu tua untuk percaya

    Kami tahu yang mati hanya akan jadi catatan kaki

    Dalam buku kekuasaan yang dingin.

     

    Tapi hari ini, kami tak akan diam lagi

    Karena kau bukan hanya satu nyawa

    Kau adalah potret nestapa kami semua

    Kaulah suara dari yang tak bersuara

    Kaulah luka dari yang terluka

    Kaulah doa dari yang tak sempat berdoa.

     

    Maka tidurlah, Affan Kurniawan

    Di antara pelukan kami yang murka

    Di antara api lilin yang tak padam

    Di antara teriakan “JUSTICE FOR AFFAN!”

    Yang akan menggema dari Jakarta sampai Lampung

    Dari istana sampai ke gubuk reyot tempatmu dulu bermimpi.

     

    Kami bersaksi:

    Kau akan jadi simbol

    Bahwa di republik ini

    Nyawa rakyat kecil bukanlah harga mati

    Untuk diinjak-injak oleh kekuasaan yang lalim.

     

    Selamat jalan, pahlawan tanpa tanda jasa

    Kami akan terus berdoa dan melawan

    Sampai pertanyaanmu terjawab:

    “Mengapa negeri membunuh anaknya yang hanya ingin bekerja?”

    —

    Ditulis dengan amarah dan duka oleh Mahendra Utama, Eksponen 98 yang masih percaya bahwa reformasi belum selesai.

    Bandarlampung, 29 Agustus 2025

    Baca juga : Menyerap Cahaya Ponpes Hingga Menjaga Marwah Pulau-pulau Nusantara

    Tags: Aktivis 98Eksponen 98Hak Asasi ManusiaJakartaJustice for AffanKekerasan NegaraKritik Sosial Mahendra UtamaLampungPejomponganPuisi Affan KurniawanPuisi ProtesReformasiSastraTragedi Agustus 2025
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    Jakarta Berguncang, Daerah Bergejolak

    Next Post

    Dari Kekacauan Agustus Menuju September Kondusif

    Related Posts

    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama
    Gaya Hidup

    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama

    11/03/2026
    Lebih Efisien ke Kuala Lumpur atau Jakarta? Ini Analisis Rute Umroh dan Perjalanan dari Lampung
    Gaya Hidup

    Lebih Efisien ke Kuala Lumpur atau Jakarta? Ini Analisis Rute Umroh dan Perjalanan dari Lampung

    22/02/2026
    Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai
    Gaya Hidup

    Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai

    20/02/2026
    Load More

    Populer Minggu Ini

    • Kelapa Lampung: Dari Komoditas Tradisional ke Hilirisasi Bernilai Tinggi

      Kelapa Lampung: Dari Komoditas Tradisional ke Hilirisasi Bernilai Tinggi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kakanwil BPN Sumsel Sambangi Kantah Banyuasin

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Selamat Tinggal Tiket Manual, ASDP Targetkan 100 Persen Digital Oktober Ini

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Sering Sebut Galer? Selamat, Istilahmu Kini Resmi Masuk KBBI

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kantor Pertanahan Banyuasin Kobarkan Gerakan Gemapatas 2025

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Mayjen Kristomei Sianturi, Putra Kotabumi Lampung, Jabat Pangdam Radin Inten

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bisnis Dan Kemitraan
    • Disclaimer
    • Term Of Service
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Lappung

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    Lappung Media Network Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved