Lappung – Puisi “Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta” adalah sebuah elegi modern yang menyuarakan duka dan amarah atas tewasnya seorang warga sipil biasa di tengah kekacauan sosial-politik.
Puisi ini menceritakan kisah tragis Affan Kurniawan, seorang perantau muda dari Lampung yang bekerja sebagai pengantar makanan di Jakarta.
Baca juga : Puisi untuk Dony Oskaria
Ia digambarkan sebagai sosok pekerja keras dengan mimpi sederhana, menabung untuk membeli tanah dan membangun rumah bagi ibunya.
Namun, takdirnya berubah saat ia secara nahas terjebak dalam sebuah kerusuhan di Pejompongan, yang digambarkan melibatkan amuk massa dan aparat negara.
Affan, yang bukan seorang demonstran melainkan hanya seorang pekerja yang sedang bertugas, menjadi korban tewas akibat kekerasan yang dilakukan oleh pihak yang seharusnya melindunginya.
Lebih dari sekadar ratapan personal, puisi ini merupakan kritik tajam terhadap negara dan penguasa.
Penulis, yang mrupakan Eksponen 98, menarik garis paralel antara tragedi yang menimpa Affan pada Agustus 2025 dengan peristiwa kelam Reformasi 1998.
Melalui perspektif ini, kematian Affan bukan lagi dilihat sebagai insiden biasa, melainkan sebuah pola kekerasan negara yang berulang terhadap rakyat kecil.
Puisi ini menolak narasi resmi dan janji-janji kosong pemerintah (akan kami usut tuntas) karena pengalaman masa lalu telah mengajarkan ketidakpercayaan.
Baca juga : Sang Pelurus Asam Pucuk, Puisi untuk Guru Besar PTPN
Pada akhirnya, Affan Kurniawan diangkat menjadi simbol perlawanan suara bagi mereka yang tak bersuara dan luka bagi seluruh rakyat yang tertindas serta menjadi pemantik seruan untuk keadilan (JUSTICE FOR AFFAN!) yang menggema sebagai pengingat bahwa nyawa rakyat tidak boleh dianggap murah oleh kekuasaan yang lalim.
Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta
Di sudut Jakarta yang mengeras oleh deru
Kau terbaring, wahai anak Lampung yang pekat mimpi
Dengan sepeda motor dan boks nasi hangat
Kau berkelana di antara gedung-gedung yang menjulang sombong
Menghantar roti untuk orang yang kenyang
Sementara kau menabung untuk sepetak tanah
Yang tak pernah kau datangi lagi.
Hari itu langit kelabu menyelimuti ibu kota
Suara benturan, teriakan, dan lolosan peluru
Mengepung ruas-ruas jalan di Pejompongan
Lalu kau datang—bukan sebagai pemberontak
Tapi sebagai pengantar yang setia
Terjebak di antara amuk massa dan besi baja
Yang tak kenal ampun.
Darahmu muncrat di aspal yang panas
Tubuhmu remuk di bawah roda-roda yang dibela negara
Matamu terpejam, masih menyimpan heran:
“Mengapa negeri membunuh anaknya yang lapar
Bukan membagikan nasi, tetapi timah dan besi?”
Wahai Affan, saudaraku, korban zaman
Kau yang hanya ingin membangun rumah untuk ibumu
Kini jadi bunga beton yang layu sebelum mekar
Kau yang setiap hari menghitung rupiah untuk adik-adikmu
Kini jadi deretan angka di berita malam
Yang cepat terlupa.
Aku menulis untukmu dari sudut sejarah yang kelam
Aku, yang pernah mendengar teriakan serupa di tahun 98
Saat mahasiswa tertembak, dan reformasi digantung
Sekarang kau—pengendara gojek yang bersih hati—
Jadi martir baru di malapetaka Agustus 2025
Dibunuh oleh yang seharusnya menjagamu.
Mereka bilang ini “insiden”
Mereka bilang “akan kami usut tuntas”
Tapi kami sudah terlalu tua untuk percaya
Kami tahu yang mati hanya akan jadi catatan kaki
Dalam buku kekuasaan yang dingin.
Tapi hari ini, kami tak akan diam lagi
Karena kau bukan hanya satu nyawa
Kau adalah potret nestapa kami semua
Kaulah suara dari yang tak bersuara
Kaulah luka dari yang terluka
Kaulah doa dari yang tak sempat berdoa.
Maka tidurlah, Affan Kurniawan
Di antara pelukan kami yang murka
Di antara api lilin yang tak padam
Di antara teriakan “JUSTICE FOR AFFAN!”
Yang akan menggema dari Jakarta sampai Lampung
Dari istana sampai ke gubuk reyot tempatmu dulu bermimpi.
Kami bersaksi:
Kau akan jadi simbol
Bahwa di republik ini
Nyawa rakyat kecil bukanlah harga mati
Untuk diinjak-injak oleh kekuasaan yang lalim.
Selamat jalan, pahlawan tanpa tanda jasa
Kami akan terus berdoa dan melawan
Sampai pertanyaanmu terjawab:
“Mengapa negeri membunuh anaknya yang hanya ingin bekerja?”
—
Ditulis dengan amarah dan duka oleh Mahendra Utama, Eksponen 98 yang masih percaya bahwa reformasi belum selesai.
Bandarlampung, 29 Agustus 2025
Baca juga : Menyerap Cahaya Ponpes Hingga Menjaga Marwah Pulau-pulau Nusantara





Lappung Media Network