Lappung – Sang Pelurus Asam Pucuk, puisi untuk Guru Besar PTPN
Puisi berjudul Sang Pelurus Asam Pucuk karya Mahendra Utama ini merupakan bentuk penghormatan dan apresiasi yang dalam kepada Dr. Mohammad Abdul Ghani, tokoh penting dalam transformasi PTPN Group.
Baca juga : Sang Pengayom dari Timur
Puisi ini menggambarkan perjalanan hidup dan dedikasi beliau, mulai dari akar akademis di Bogor hingga perjuangannya menyehatkan perusahaan-perusahaan perkebunan negara yang sempat terseok.
Dalam bait pertama, penyair menyampaikan bahwa Ghani bukanlah pencari kemewahan, melainkan pejuang sejati di lapangan, yang bersentuhan langsung dengan tanah, keringat sinder, dan aroma kebun.
“37 musim kaubaktikan jiwa” bukan sekadar metafora, tapi penanda pengabdian panjang dan konsisten dalam industri perkebunan Indonesia.
Baca juga : Seratus Hari Cahaya Nusantara
Bait kedua hingga keempat memuat narasi kepemimpinan yang tangguh dan penuh integritas.
Dari langkah awal di PTPN IV hingga menduduki pucuk pimpinan holding, Ghani disebut sebagai “Sang Pelurus” oleh Erick Thohir, sebuah pengakuan bahwa ia bukan sekadar manajer, tapi penyelaras arah di tengah badai restrukturisasi.
Dengan bahasa puitis namun tegas, Mahendra menyandingkan Ghani sebagai sosok yang bukan hanya menyelamatkan perusahaan dari utang dan kerugian, tapi juga menumbuhkan kembali harapan lewat reformasi nyata.
Baca juga : Layu di Negeri Edamame
Warisan Ghani, menurut puisi ini, bukanlah kekuasaan, melainkan keteladanan dan etos kerja.
Pada akhirnya, puisi ini menobatkannya secara simbolis sebagai “Bapak Sawit Nusantara”, dan menyatakan bahwa karyanya bukan hanya kebijakan atau laporan, tetapi puisi yang ditulis bumi sendiri, ungkapan penuh penghargaan bagi seorang pejuang agribisnis sejati.
SANG PELURUS ASAM PUCUK
Puisi untuk Guru Besar PTPN
Karya: Mahendra Utama
Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh
—
DARI TANAH BOGOR
Di kampus pertanian, kau tempa diri,
Bersama ilalang dan pucuk teh bersemi.
Bukan menara emas yang kau cari,
Melainkan peluh sinder di ujung kebun sawit.
— 37 musim kaubaktikan jiwa —
Pada gurih karet, manis tebu, dan gemulai kelapa sawit.
—
JEJAK NAKHODA KEBUN
Dari PTPN IV kau melangkah pasti,
Menyusuri Kalimantan (XIII), Jambi (VI), Sumatera (II),
Lalu ke puncak induk: PTPN III.
Di tiap dahan perusahaan, kau tinggalkan akar.
— Saat angin restrukturisasi mengguncang —
Kau justru tegak: “Erick Thohir pun berbisik: Dialah Sang Pelurus!”
—
TANGAN PENYELAMAT
Utang menggunung? Kaulah pendaki tebing itu.
Dengan peta transformasi, kau ubah jurang
Menjadi hamparan kebun yang berlabuh.
Tak lagi angka merah membayang,
Tapi tunas-tunas kemandirian.
— Di genggamanmu, gula dan sawit pun menari —
Berkat keteguhan petak kebun di nadimu.
—
WARISAN YANG TAK TERPATAHKAN
Bukan singgasana yang kau cari,
Tapi bukti: kesetiaan adalah ilmu abadi.
Dari mimpi kecil jadi mandor kebun,
Hingga pucuk pimpinan holding perkebunan.
— Maka dari Mitratani, kami berikhtiar —
Menghormati jejakmu:
“Ghani, Bapak Sawit Nusantara…
Karyamu adalah puisi yang ditulis bumi sendiri!”
—
#BersamaMaju
Untuk Dr. Mohammad Abdul Ghani, Sang Guru Besar PTPN
Hormat kami,
Mahendra Utama
Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh
Baca juga : Selat Sunda: Perahu Kertas Negeri, Karya: Mahendra Utama





Lappung Media Network