Lappung – Layu di Negeri Edamame karya dari Mahendra Utama.
Ditulis oleh Mahendra Utama, Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh, puisi ini ditujukan untuk mengenang kolega sekaligus sahabatnya, Husni Mubarok, seorang Asisten Manajer di divisi On Farm perusahaan tersebut.
Baca juga : Syair Edamame dan Okra di Bumi Jember, Karya: Mahendra Utama
Puisi ini juga menggambarkan sosok Husni Mubarok sebagai seorang pekerja keras yang berdedikasi di bidang pertanian, khususnya budidaya edamame di Jember.
Kepergiannya meninggalkan duka tidak hanya bagi rekan kerja, tetapi juga bagi “semesta Jember” yang menjadi latar pengabdiannya.
Penggunaan elemen alam seperti Gunung Argopuro, Pantai Puger, dan tanaman edamame memperkuat ikatan antara almarhum dengan tanah kelahirannya dan pekerjaannya, sekaligus menjadi saksi bisu atas jasa dan kenangannya.
Baca juga : Selat Sunda: Perahu Kertas Negeri, Karya: Mahendra Utama
Puisi ini adalah sebuah penghormatan yang indah dan menyentuh.
Layu di Negeri Edamame
Di Jember, kota edamame menguning,
Di kaki Argopuro yang membisu,
Datang kabar dari Puger menggemuruh,
Ombak memecah, membawa duka biru.
Husni Mubarok, nama yang meresap,
Di tanah subur, biji-biji kau tebarkan,
Asisten Manajer yang tekun berkebun,
Edamame hijau, okra tegarkan.
Lahir Agustus ’79, semangat menggelora,
Membina kebun, reputasi terjaga,
Sampai Juni ’25, waktu berhenti berdetak,
Sakit merenggut, jalanmu terpotong sudah.
Wahai kawan sekerja, di divisi On Farm,
Kebunmu kini sunyi, bagai petak merana,
Satu lagi peladang setia berpulang,
Meninggalkan aku, dan kenangan yang terpana.
Dua tahun kujabat Komisaris di sana,
Bersamamu, melihat benih menjadi dewasa,
Jember punya rindu, di setiap jengkal tanahnya,
Di hamparan edamame, ceritamu terpatra.
Puger menangis, air asinnya berlinang,
Membasahi pasir, tempat nelayan pulang,
Seperti dukaku, yang tak kunjung usai,
Menyaksikan sahabat, pergi untuk selamanya.
Argopuro menjulang, megah dan abadi,
Menjaga jasadmu, yang tenang bersemadi,
Namun jiwa petanimu, yang gigih dan jujur,
Laksana angin gunung, meresap ke segala sudur.
Husni… bijimu tertanam, tapi takkan tumbuh lagi,
Kebun kehilangan tangan, yang selalu setia mengawasi,
Puger dan Argopuro bersaksi, ikhlasmu yang tulus,
Kini hanya kenangan, di antara daun yang bergelus.
Selamat jalan, kawan seperjuangan di kebun,
Doa menyertaimu, dalam damai nan sunyi,
Jember, pantai, gunung, dan edamame yang ranum,
Akan selalu bercerita, tentang Husni Mubarok yang pergi.
_Innalilahi wa innalilahi rojiun, untuk Husni Mubarok, sahabat kebun dan semesta Jember yang pergi…_
Bandar Lampung, 4 Juni 2025
Mahendra Utama
Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh
Baca juga : Hanya Lelah Tiada Bertepi, Karya Mahendra Utama





Lappung Media Network