Lappung – Puisi Hanya Lelah Tiada Bertepi karya dari Mahendra Utama.
Baca juga : Jembatan Sakura dan Nusantara, Karya: Mahendra Utama
Puisi Hanya Lelah Tiada Bertepi karya Mahendra Utama adalah sebuah ungkapan mendalam tentang kelelahan fisik dan mental yang luar biasa, keputusasaan, kekecewaan, serta kehilangan.
Baca juga : Untuk Faisol Riza: Lanskap Perjuangan, Karya: Mahendra Utama
Puisi ini juga menggambarkan perjalanan batin seseorang yang merasa hancur dan terpuruk akibat serangkaian peristiwa atau tekanan hidup.
HANYA LELAH TIADA BERTEPI
Karya Mahendra Utama
Dua tahun akhir menggelinding sunyi,
Wajah-wajah pun retak dalam bayang.
Kita memilih—diam membatu, tanpa kira.
Di selatan, Papuma menggenggam erat keputusanku,
Gelombangnya mengikis sisa harap; pasirnya basah air mata tak tertumpah.
Argopuro menjulang, dinginnya menusuk tulang—
Kudaki tanpa pelana, kaki terkoyak ilalang Bondowoso yang tajam.
Ingat, Agustus 2023? Kekecewaan mengendap jadi debu…
Desah… desah… kisah tercekat di kerongkongan.
Hamparan ilalang Bondowoso tak peduli:
Angin menerbangkan duka, tapi ia hanya diam, membisu dalam kemarau panjang.
Siapa cipta kekeringan jiwa ini?
Siapa hujani hidup dengan derai tak henti?
Dalam senyap… cuma desis cerutu Jember menemani,
Asapnya menari-nari, mengubur logika.
Keakuan luruh—runtuh tanpa sisa.
Akademik? Reruntuhan di tengah savana pikiran.
Seperti pandemi…
Mati rasa. Mati raga. Mati langkah.
Bondowoso-Jember-Sidoarjo: 270 km kusuruk dalam satu malam.
Jalan berliku, aspal retak, mata perih oleh kabut dan lampu jauh.
Beban roda adalah beban hati—
Setiap kilometer menggerus sisa tenaga.
Terima kasih untuk semua lara.
Kau yang merajut, kau pula yang mengoyak…
Aku debu—
Debu dari keyakinan yang pecah.
Bondowoso, Jember, Sidoarjo…
15 hingga 19 Mei 2025:
Empat roda berpacu melawan waktu,
Tubuh bergetar, jiwa terhempas di jok besi.
Tuhan…
Reputasiku luluh jadi corengan aib
Di Mitratani Dua Tujuh.
— debu itu kini tenggelam dalam air yang tak bergerak —
Danau Sunter, Jakarta 20 Mei 2025
Baca juga : Sang Pelita Lampung: Untuk Iyai Mirza, Karya Mahendra Utama





Lappung Media Network