Lappung – Puisi Jembatan Sakura dan Nusantara Karya Mahendra Utama.
Puisi ini adalah sebuah ungkapan harapan, tekad, dan visi tentang hubungan persahabatan dan kerja sama antara Indonesia dan Jepang.
Melalui metafora Jembatan Sakura dan Nusantara, penulis menggambarkan upaya untuk menghubungkan kedua bangsa melalui berbagai aspek.
Secara keseluruhan, puisi ini adalah manifesto seorang individu yang memiliki semangat untuk menjalin hubungan yang kuat dan saling menguntungkan antara Indonesia dan Jepang, dilandasi oleh rasa cinta tanah air, penghargaan terhadap budaya, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Jembatan Sakura dan Nusantara
Karya: Mahendra Utama
Di antara kelopak sakura yang mekar bersemi,
Kupijakkan tekad membawa namamu, Ibu Pertiwi.
Bukan sekadar titah, tapi rindu yang membara—
Merajut Nusantara-Jepang dalam gegap gempita karya.
Batik bertutur dengan kimono nan anggun,
Bahasa rupa mengukir dialog tanpa jeda.
Di sini, teknologi berpadu kearifan samurai,
Kita tulis masa depan di kanvas samudra raya.
Terkadang badai skeptis mencoba menghempas,
Tapi komodo tak gentar—ia tetap melangkah pasti.
Seribu Hiroshima bangkit dari debu kelam,
Indonesia-Jepang: kita saudara penakluk rintangan.
Di meja diplomasi, kupersembahkan kopi dan matcha,
Merangkai kemitraan di antara dentang gamelan dan koto.
Bukan hanya bisnis, tapi hati yang berpadu—
Menanam benih SDG’s di bumi yang sama-sama kita cinta.
Esok, bila Fuji dan Rinjani saling membisikkan awan,
Akan kusampaikan kabar: “Mereka telah bertaut tangan.”
Duta bukanlah singgasana, tapi pengabdian tanpa henti—
Untuk Indonesiaku, untuk dunia yang lebih bersinar abadi.
Apabila amanah ini sampai…
Akan aku genggam erat-erat, di dalam lubuk hati sang dwi warna.
Semoga Allah berkahi langkah ini,
Semoga Ibu pertiwi tersenyum…
Inilah goresan pena anak kampung yang bermimpi, untuk kejayaan Indonesia di Negeri Sakura.
Shinagawa, Tokyo
21 Maret 2025




Lappung Media Network