Lappung – Puisi “Menyerap Cahaya Ponpes Hingga Menjaga Marwah Pulau-Pulau Nusantara” adalah sebuah penghormatan yang menggambarkan perjalanan hidup dan pengabdian seorang tokoh bernama Achmad Baidowi.
Paragraf awal mengisahkan tentang latar belakangnya, mulai dari kelahirannya di Banyuwangi hingga proses pendidikannya yang menyerap nilai-nilai dari 2 dunia, pesantren dan perguruan tinggi (kampus peradaban).
Baca juga : Puisi untuk Dony Oskaria
Fondasi ini membentuk karakternya yang menjadikan ilmu sebagai bekal dan pengabdian sebagai tujuan hidup.
Puisi ini juga kemudian menelusuri jejak kariernya yang dinamis, dari seorang wartawan yang kritis dalam menyuarakan nurani bangsa, hingga akhirnya beralih menjadi seorang legislator di Senayan yang mengemban amanah dan harapan rakyat.
Perjalanannya sebagai wakil rakyat digambarkan sebagai perjuangan tanpa henti yang meninggalkan jejak penting dalam demokrasi Indonesia.
Pada bagian selanjutnya, puisi ini menyoroti peran-peran penting yang diemban Achmad Baidowi saat ini, yang secara metaforis disebut “berlabuh di dermaga harapan”.
Perannya di ASDP diartikan sebagai tugas mulia untuk menjaga dan menghubungkan pulau-pulau di Nusantara, sementara posisinya di Kadin (Kamar Dagang dan Industri) menunjukkan perannya sebagai jembatan antara dunia usaha dan parlemen.
Baca juga : Sang Pelurus Asam Pucuk, Puisi untuk Guru Besar PTPN
Puncak dari puisi ini adalah penegasan identitas Baidowi sebagai sosok yang berhasil menyatukan dua karakter dalam dirinya, yaitu sebagai “santri dan negarawan”.
Ia digambarkan sebagai figur yang mampu membawa nilai-nilai tradisi keislaman dari organisasi seperti NU, HMI, dan ICMI ke dalam panggung politik kebangsaan.
Pada akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa nama Baidowi adalah simbol dari semangat pengabdian yang tak pernah padam, yang perannya akan terus relevan sebagai suara, jembatan, dan pengawal peradaban selama kepercayaan rakyat masih menyertainya.
Menyerap Cahaya Ponpes Hingga Menjaga Marwah Pulau-pulau Nusantara
Achmad Baidowi di tanah Banyuwangi engkau dilahirkan,
Tumbuh dalam asuhan kasih keluarga dan doa yang tak berkesudahan.
Menyerap cahaya dari pesantren dan kampus peradaban,
Menjadikan ilmu sebagai bekal, pengabdian sebagai jalan.
Engkau, Baidowi—
Pena wartawan pernah kau genggam,
Menulis tentang bangsa, menyuarakan nurani dalam berita.
Lalu langkahmu berpindah ke kursi rakyat,
Menyambung harapan dari desa hingga senayan megah.
Ribuan suara rakyat menjadi saksi,
Bahwa perjuangan tak pernah berhenti.
Dari komisi ke komisi, dari legislasi ke amanah negeri,
Nama Baidowi terpahat dalam catatan demokrasi.
Kini, di dermaga harapan kau berlabuh,
Menjaga ASDP, menghubungkan pulau-pulau nusantara,
Juga di Kadin kau berdiri teguh,
Menjembatani dunia usaha dengan parlemen bangsa.
Engkau adalah cermin santri dan negarawan,
Menyatukan tradisi pesantren dengan politik kebangsaan.
Dari NU, HMI, hingga ICMI,
Engkau menorehkan jejak, mengalirkan arti.
Baidowi—
Namamu adalah semangat tak pernah padam,
Saksi perjalanan dari bawah hingga puncak pengabdian.
Selama rakyat masih percaya pada cahaya kebenaran,
Engkau tetap akan berdiri:
Sebagai suara, sebagai jembatan, sebagai pengawal peradaban.
Gondangdia, 18 Agustus 2025
Mahendra Utama
Baca juga : Serat Tanah dan Rasa: Untuk Andre Abdullah





Lappung Media Network