Lappung – Sejak era kemerdekaan hingga hari ini, Jakarta tak pernah lepas dari perannya sebagai panggung utama gejolak politik Indonesia.
Menurut aktivis Eksponen 98, Mahendra Utama, setiap getaran sosial dan politik yang terjadi di ibu kota selalu berpotensi mengguncang seluruh sendi republik.
Baca juga : Semangat Baru: Mahendra Utama Titip Harapan pada Bhayangkara Presisi Lampung FC
Posisi strategis ini menjadikan Jakarta barometer yang menentukan arah perubahan bangsa.
“Tidak berlebihan bila dikatakan: bila Jakarta bergejolak, se-Republik Indonesia ikut bergetar,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Jumat, 29 Agustus 2025.
Pandangan ini bukan tanpa dasar. Sejarah mencatat jalan-jalan protokol Jakarta telah berulang kali menjadi saksi bisu lahirnya perubahan besar yang menentukan nasib bangsa.
Jejak Sejarah di Jalanan Ibu Kota
Peran sentral Jakarta sebagai episentrum demonstrasi terekam jelas dalam beberapa peristiwa monumental.
Pada tahun 1966, gelombang demonstrasi mahasiswa yang menyuarakan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) menjadi pemicu runtuhnya rezim Orde Lama.
Baca juga : Mahendra Utama: Peningkatan Aset 15,6 Persen, Bukti Kehebatan Abdul Ghani Memimpin PTPN
8 tahun kemudian, pada 1974, peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) menjadi alarm keras bagi pemerintahan Orde Baru.
Puncaknya terjadi pada Mei 1998, di mana Jakarta menjadi titik klimaks dari perjuangan rakyat yang berhasil menumbangkan rezim otoriter setelah berkuasa lebih dari tiga dekade.
Mahendra, yang juga merupakan saksi sejarah, mengenang kembali perjuangannya bersama Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD).
“Di Jakarta, kami menemukan ruang untuk bersuara meski dibalas represi, stigma, bahkan risiko kehilangan nyawa.
“Tetapi keyakinan bahwa ibu kota adalah jantung republik membuat kami tidak pernah ragu,” kenangnya.
Daya magnet Jakarta sebagai pusat perubahan bahkan diakui oleh media internasional.
The New York Times pada Mei 1998 menulis, “Jakarta has become the barometer of Indonesian democracy, where protests in the capital signal political tremors across the archipelago”.
Media lain seperti Reuters dan Associated Press juga kerap menyebut Jakarta sebagai “epicenter of Indonesian unrest”.
Baca juga : 3 Pilar Pangan dan Ekonomi Lampung Selatan
3 Faktor Kunci Pengguncang Republik
Menurut Mahendra, setidaknya ada 3 faktor utama yang menjadikan Jakarta selalu menjadi pusat gejolak politik nasional.
- Pusat Kekuasaan: Sebagai lokasi Istana Negara, Gedung DPR/MPR, kementerian, hingga kantor pusat partai politik, Jakarta adalah jantung pemerintahan. Setiap tuntutan yang disuarakan di sini akan langsung berhadapan dengan pusat pengambilan keputusan.
- Pusat Media: Hampir seluruh media nasional, baik televisi maupun daring, berpusat di Jakarta. Hal ini membuat setiap aksi atau peristiwa di ibu kota mendapat sorotan instan dan masif ke seluruh penjuru negeri.
- Simbol Politik: Jakarta adalah tempat berkumpulnya berbagai elemen kekuatan masyarakat, mulai dari mahasiswa, buruh, hingga organisasi masyarakat sipil dan keagamaan. Konsentrasi massa ini menjadikannya simbol kekuatan politik rakyat.
Gema yang Tak Pernah Padam
Pola ini terbukti tidak berubah, bahkan setelah era reformasi.
Demonstrasi buruh di depan Gedung DPR hampir selalu memicu aksi serupa di kota-kota besar lain seperti Medan, Bandung, Bandarlampung, dan Surabaya.
Aksi 212 di Monas juga bergaung hingga ke berbagai daerah.
Teranyar, gelombang unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja pada 2020 yang berawal dari Senayan dengan cepat menyebar ke seluruh Indonesia.
“Dan kini, pasca tragedi Affan Kurniawan, Jakarta sekali lagi menunjukkan dirinya sebagai kompas kemarahan publik yang mengguncang republik,” tegas Mahendra.
Sebagai seorang aktivis yang besar di jalanan, ia memahami bahwa demonstrasi sering kali menjadi kanal terakhir bagi rakyat untuk didengar.
Namun, ia juga mengingatkan tantangan ke depan adalah menjaga Jakarta sebagai ruang demokrasi yang sehat tanpa terjerumus ke dalam anarki.
“Negara sebaiknya memilih mendengar, bukan membungkam.
“Karena sejarah sudah mengajarkan: suara Jakarta adalah gema republik. Jika Jakarta bergemuruh, maka Indonesia akan ikut bergetar,” tandasnya.
Baca juga : Sampah Jadi Listrik: Harapan Baru Lampung dan Bandarlampung





Lappung Media Network