Lappung – Puisi ini adalah sebuah elegi, atau ungkapan duka cita, yang ditulis oleh Mahendra Utama untuk mengenang wafatnya seorang tokoh bernama Hajjah Balqis Aliyah.
Baca juga : Sang Pengayom dari Timur
Secara keseluruhan, puisi ini mengekspresikan rasa kehilangan yang mendalam (“Kabar duka datang menyentak kalbu) sekaligus keikhlasan atas takdir Tuhan.
Almarhumah digambarkan sebagai sosok bunda dan pelita, yang menyiratkan bahwa beliau adalah figur yang penyayang, pengayom, dan menjadi panutan bagi orang-orang di sekitarnya.
Nuansa keislaman sangat kental, yang ditunjukkan melalui penggunaan frasa “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” dan keyakinan bahwa kematian adalah kepulangan kepada Sang Pencipta (menjemput cinta-Nya).
Lebih dalam, puisi ini memuat kenangan akan sifat-sifat mulia almarhumah serta doa-doa tulus untuknya dan keluarga yang ditinggalkan.
Penulis mengenang Hajjah Balqis Aliyah sebagai pribadi yang lembut (wajahmu cermin kelembutan) dan bijaksana (kata-katamu mutiara hikmah).
Doa-doa yang dipanjatkan sangat lengkap, mencakup harapan agar amalnya diterima, dosanya diampuni, kuburnya dilapangkan, dan ditempatkan di surga.
Baca juga : Mengurai Dinamika Ekonomi Jember: Antara Krisis dan Peluang
Selain mendoakan almarhumah, puisi ini juga secara khusus menyebut dan mendoakan keluarga yang berduka, yaitu H. M Nasim Khan dan anak-anak almarhumah, agar diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini.
Untuk Hajjah Balqis Aliyah Sang Pelita yang Kembali
Kabar duka datang menyentak kalbu,
Menjadi titipan Yang Maha Kuasa.
Hajjah Balqis Aliyah, sang bunda,
Telah berpulang, menjemput cinta-Nya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,
Sungguh kita milik-Nya, dan pada-Nya kembali.
Doa untuk H. M Nasim Khan,
Semoga ketabahan menyinari harimu.
Wajahmu, Ibu, cermin kelembutan,
Sepanjang hayat dirahmati Ilahi.
Kata-katamu mutiara hikmah,
Kini tenang dalam damai abadi.
Al-Fatihah untuk jenazahmu, Bunda,
Semoga amal ibadah Kau terima.
Dihapuskan dosa, dilapangkan kubur,
Dan ditempatkan di Surga-Nya yang mulia.
Kau tinggalkan cerita, kau tinggalkan doa,
Pada anak-anakmu yang terus berjuang.
Semoga Allah SWT melimpahkan sabar,
Menguatkan hati di dalam ujian.
Selamat jalan, Ibu… Telah selesai kewajiban,
Kembali pada Ilahi, Sang Maha Pemurah.
Damaimu kekal di sisi-Nya,
Sementara kami di sini, mendoakan terangkai indah.
Penulis: Mahendra Utama
Baca juga : Aktivis Chaerudin Affan Jabat Komisaris Anak Usaha Pelindo





Lappung Media Network