Lappung – Kerja sama perdagangan yang tengah dibangun antara Provinsi Lampung dan Jawa Tengah dinilai bukan sekadar kesepakatan transaksional biasa.
Langkah Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (Mirza) dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang memadukan diplomasi dagang dengan nilai historis transmigrasi, dianggap sebagai strategi cerdas dalam membangun pondasi bisnis yang kokoh.
Baca juga : Sokong Swasembada Nasional, Lampung Catat Rekor Produksi Padi Tertinggi Sepanjang Sejarah
Hal tersebut diungkapkan oleh Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menanggapi pertemuan kedua kepala daerah tersebut.
Menurut Mahendra, pendekatan yang dilakukan kedua gubernur ini menunjukkan wajah baru diplomasi antar daerah yang berakar kuat pada sejarah sosial.
“Apa yang dilakukan Mirza dan Luthfi patut dibaca sebagai strategi cerdas. Mereka tidak hanya bicara angka dagang, tapi meletakkan diplomasi historis transmigrasi sebagai pondasi bisnis.
“Ini yang membuat kerja sama akan tahan lama,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Kamis, 8 Januari 2206.
Ikatan Emosional
Sorotan khusus diberikan pada kunjungan Gubernur Ahmad Luthfi ke Museum Transmigrasi dan Desa Bagelen di Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran.
Bagi Mahendra, kunjungan tersebut lebih dari sekadar agenda seremonial. Lokasi itu adalah bukti otentik keterhubungan erat antara Lampung dan Jawa Tengah.
“Jutaan warga Lampung hari ini punya ikatan darah dan budaya dengan Jawa Tengah. Dalam teori sosial, ini disebut trust embeddedness atau kepercayaan yang tumbuh dari pengalaman bersama.
“Bisnis yang berdiri di atas rasa saling percaya dan memori kolektif keluarga besar seperti ini tidak akan berjalan di ruang hampa,” jelasnya.
Mahendra mengutip pandangan ekonom peraih Nobel, Douglass C. North, yang menyebutkan bahwa institusi informal seperti norma dan sejarah bersama seringkali lebih menentukan keberlangsungan ekonomi dibanding sekadar kontrak formal di atas kertas.
Agroindustri dan Logistik
Dari sisi ekonomi praktis, Mahendra menilai kolaborasi ini sangat strategis. Lampung memiliki kekuatan besar di sektor agroindustri pangan, perkebunan, dan hasil laut.
Baca juga : Lampung dan Jawa Tengah Jalin Kerja Sama: Langkah Cerdas atau Sekadar Seremonial?
Sementara itu, Jawa Tengah unggul dalam industri pengolahan, logistik, dan memiliki pasar konsumsi yang besar.
“Ini sejalan dengan konsep regional value chain. Integrasi keunggulan wilayah yang punya kedekatan geografis dan sosial akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih alami,” papar Mahendra.
Ia menambahkan, karena sejarah transmigrasi, Lampung bukan lagi wilayah asing bagi Jawa Tengah.
Hal ini membuat diplomasi dagang yang terbangun terasa seperti konsolidasi ekonomi keluarga besar, bukan sekadar ekspansi pasar yang kaku.
Aset Strategis Masa Depan
Menutup keterangannya, Mahendra menekankan bahwa sinergi Lampung–Jawa Tengah membawa pesan penting bagi pembangunan nasional.
Integrasi ekonomi tidak selalu harus dimulai dari pusat, namun bisa dimulai dari daerah yang mampu membangun jejaring berbasis sejarah.
“Diplomasi ala Mirza–Luthfi membuktikan bahwa sejarah bukan beban, tapi aset strategis.
“Masa depan ekonomi sering kali justru bertumpu pada ingatan masa lalu, dan keduanya sedang membuktikan itu bisa menjadi fondasi bisnis yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Baca juga : Hilirisasi, Kolaborasi, dan Energi Surya: Menakar Wajah Baru Industri Lampung 2025





Lappung Media Network