Lappung – Rencana Pemerintah Provinsi Lampung menggenjot produksi padi hingga 3,5 juta ton pada 2026 dinilai berisiko menjadi bumerang bagi petani jika tidak dibarengi dengan proteksi pasar yang kuat.
Lonjakan produksi tanpa jaminan penyerapan dan stabilitas harga dikhawatirkan justru akan memiskinkan petani saat panen raya tiba.
Baca juga : Sokong Swasembada Nasional, Lampung Catat Rekor Produksi Padi Tertinggi Sepanjang Sejarah
Peringatan ini disampaikan oleh Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menanggapi target ambisius Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
Menurut Mahendra, keberhasilan swasembada pangan tidak boleh hanya diukur dari angka statistik di atas kertas, melainkan dari tingkat kesejahteraan para petani.
“Target 3,5 juta ton itu realistis secara teknis, tapi menjadi percuma jika pemerintah daerah gagal menjamin stabilitas harga.
“Jangan sampai petani kita bekerja keras menaikkan produksi, tapi justru merugi karena harga gabah jatuh saat suplai melimpah,” tegas Mahendra Utama, Jumat, 9 Januari 2026.
Mahendra mengapresiasi langkah Gubernur yang akrab disapa Iyai Mirza itu untuk fokus pada peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dari 100 menjadi 200 hingga 300.
Strategi ini dianggap solusi cerdas untuk melipatgandakan hasil panen di lahan yang sama.
Namun, ia mengingatkan bahwa strategi tersebut menuntut kesiapan infrastruktur yang masif.
Mahendra menyoroti 3 tantangan struktural utama yang harus dibereskan Pemprov Lampung.
Yakni, perbaikan jaringan irigasi yang menua, pengendalian alih fungsi lahan produktif, serta mitigasi dampak perubahan iklim.
“Modernisasi pertanian tidak bisa parsial. Jika ingin IP 300 berjalan mulus, manajemen air dan mekanisasi harus sinkron.
Baca juga : Jaga Perut Warga dan Dompet Petani, Aliran Gabah Keluar Lampung Disetop
“Ini soal memanusiakan petani dalam ekosistem industri pangan yang modern, agar anak-anak petani tidak putus sekolah hanya karena fluktuasi harga gabah,” tambahnya.
Dukungan Sentra Produksi
Optimisme senada muncul dari lini eksekutif di daerah.
Plt Bupati Lampung Tengah, Komang Koheri, menyatakan wilayahnya siap mendukung penuh visi lumbung pangan nasional tersebut.
Komang menekankan bahwa petani di Lampung Tengah memiliki etos kerja tinggi.
Namun, ia meminta agar dukungan pemerintah pusat dan provinsi, khususnya terkait program pompanisasi dan distribusi benih unggul, benar-benar tepat sasaran.
“Petani adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Kami akan pastikan bantuan alsintan dan benih sampai ke tangan mereka tanpa hambatan birokrasi, demi mendukung target swasembada ini,” ujar Komang.
Menutup keterangannya, Mahendra Utama berharap sinergi antara kebijakan Gubernur, pengawasan legislatif, dan kerja keras petani di lapangan dapat berjalan konsisten.
“Target 2026 adalah pertaruhan besar. Lampung punya peluang mengukuhkan diri sebagai lumbung pangan bermartabat, asalkan eksekusinya konsisten dan berpihak pada nasib petani,” pungkasnya.
Baca juga : Tapioka Lesu, Petani Singkong Lampung Terjepit: Solusi Terpadu Dibutuhkan Segera





Lappung Media Network