Lappung – Puisi ini merupakan sebuah ode pengharapan dan apresiasi terhadap sosok pemimpin (Gubernur Rahmat Mirzani Djausal atau Iyai Mirza) yang dianggap membawa angin segar bagi Provinsi Lampung.
Pada bagian awal, penyair menggambarkan kerinduan masyarakat Lampung akan kebangkitan daerahnya yang selama ini seolah terpendam dalam sunyi.
Kehadiran tokoh pemimpin ini digambarkan bukan sebagai penguasa yang otoriter, melainkan sebagai pelayan masyarakat yang rendah hati yang siap bekerja bersih-bersih dan turun langsung ke lapangan.
Penyair menekankan bahwa kepemimpinan ini berbasis pada aksi nyata, bukan sekadar retorika atau janji kosong, dengan fokus pembenahan mulai dari birokrasi hingga menyentuh hati rakyat.
Lebih jauh, puisi ini menyoroti kedekatan emosional dan fisik pemimpin dengan rakyat kecil.
Hal ini tergambar jelas dari aktivitas blusukan ke ladang untuk mendengar keluhan petani lada, kunjungan ke rumah sakit, hingga memastikan bantuan sosial (Bansos) tepat sasaran dan dirasakan manfaatnya oleh kaum ibu.
Semangat pembangunan yang diusung adalah konsep bottom up, yaitu membangun dari desa dan sawah menuju Lampung yang tegak berdiri.
Puisi diakhiri dengan doa, dukungan moral, dan ajakan gotong royong dari seluruh elemen masyarakat mulai dari Pahawang hingga Way Kambas, untuk bersama-sama mewujudkan visi Sai Bumi Ruwa Jurai menuju cita-cita besar Indonesia Emas.
SAI BUMI RUWAI JURAI BANGKIT
Karya: Mahendra Utama
Di pagi yang diselimuti embun
Harap lama terpendam dalam sunyi:
Kapan tanah ini bangkit berdiri,
Agar mimpi tak lagi merantau sendiri?
Lalu datang sang angin segar
Dari Kotabumi, darah dan tanahnya.
Bukan kata kosong yang digerak,
Tapi langkah nyata yang disemai.
Ia bawa sapu, bukan tongkat komando,
Untuk ASRI-kan kantor dan hati.
Ia duduk di hamparan ladang,
Dengarkan curhat petani tentang lada.
Di gudang buku, di ranjang rumah sakit,
Kaki langsung jejak rasa.
Bansos tak lagi angka semu,
Tapi senyum ibu di dapur lesu.
“Hamba Allah,” katanya ringan,
Menjadi kompas di lautan janji.
Membangun dari desa, dari sawah,
Untuk Lampung yang berdiri tegak.
Terima kasih, sang penyalur harapan,
Doa kami sertai setiap langkahmu.
Jaga Sai Bumi ini dengan iman,
Hingga cerah mentari Indonesia Emas.
Tabik pun, Iyai Mirza!
Teruslah maju, bersama kami bergotong royong.
Dari Pahawang hingga Way Kambas,
Kita wujudkan bangkitnya Ruwa Jurai.
—
Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan tinggal di Bandarlampung.
Puisi ini didedikasikan jelang 1 tahun pengabdian untuk Lampung bagi Iyai Mirza dan Mbak Jihan.





Lappung Media Network