Lappung – Di bulan suci Ramadan, emak-emak di Bandarlampung kembali dibuat pusing.
Pasalnya, harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp80.000 per kilogram pada Senin, 2 Maret 2026.
Ironisnya, tren kenaikan lokal ini terjadi saat rata-rata harga cabai nasional justru sedang melandai.
Mengutip data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga cabai rawit merah tingkat nasional sebenarnya turun dari Rp77.645/kg pada 23 Februari menjadi Rp70.953/kg per 1 Maret 2026.
Namun, realita di pasar-pasar Bandarlampung berbicara lain, dengan rentang harga cabai rawit yang tertahan tinggi di angka Rp60.000 hingga Rp80.000 per kilogram.
Di sisi lain, beberapa komoditas terpantau stabil. Bawang putih honan turun tipis Rp1.000 menjadi Rp38.500/kg.
Sementara harga beras medium dan daging sapi bertahan di angka Rp15.150/kg dan Rp139.667/kg.
Tingginya harga komoditas pedas ini langsung memukul daya beli masyarakat di akar rumput.
“Ibu-ibu rumah tangga banyak yang mengeluh. Harga cabai segini bikin susah ngatur uang belanja harian, mau masak hemat jadi susah,” keluh salah satu pedagang sayur di Pasar Way Kandis, Bandarlampung.
Merespons anomali harga ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya telah memberikan tanggapan.
“Tren penurunan cabai rawit secara nasional adalah hasil koordinasi Satgas Pangan, tapi fluktuasi lokal di daerah memang perlu pengawasan yang lebih ketat,” tegasnya.
Inflasi dan Bom Waktu Ekonomi
Menyoroti fenomena ini, Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, angkat bicara.
Ia menilai lonjakan harga cabai rawit lokal murni dipicu oleh hukum supply and demand akibat faktor cuaca buruk yang menahan pasokan, berbenturan dengan siklus naiknya permintaan selama Ramadan.
“Pasokan di daerah sangat terbatas akibat cuaca, sementara demand masyarakat perlahan naik saat atau menjelang bulan puasa.
“Fluktuasi ini bukan sekadar angka di atas kertas, tapi langsung menggerus daya beli masyarakat kelas bawah,” ujar Mahendra, Selasa, 3 Maret 2026.
Lebih lanjut, Mahendra memperingatkan adanya ancaman inflasi dari sektor pangan.
Ia mencatat, meski Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi Lampung pada Januari 2026 tergolong rendah di angka 1,9 persen, fluktuasi harga pangan harian yang tak terkendali bisa mendorong inflasi keseluruhan naik hingga 2,5 persen, sesuai dengan proyeksi Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lampung.
Hulu ke Hilir
Untuk memutus rantai masalah klasik ini, Mahendra mendesak adanya langkah konkret dari berbagai pihak.
Kepada pemerintah daerah, ia menyarankan penguatan subsidi pupuk dan intervensi distribusi demi menstabilkan pasokan, serta mewaspadai praktik kartel pangan yang kerap bermain jelang hari besar keagamaan.
“Pemerintah harus pastikan distribusi lancar dan hindari penimbunan.
“Di sisi lain, pedagang bisa mulai melakukan diversifikasi stok dan memanfaatkan e-commerce untuk menekan biaya operasional agar harga tetap kompetitif,” saran Mahendra.
Tak hanya mengkritik kebijakan, ia juga memberikan tips survival ekonomi bagi konsumen.
“Masyarakat harus lebih bijak berbelanja. Solusi jangka panjangnya, ibu-ibu bisa mulai melirik urban farming, seperti menanam cabai dengan metode hidroponik sederhana di rumah.
“Jika masalah fluktuasi pangan di Ramadan ini tidak segera diatasi secara serius dari hulu ke hilir, inflasi pangan bisa jadi bom waktu bagi perekonomian Lampung,” tutup Mahendra Utama.





Lappung Media Network