Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Mengganti Gandum Impor Melalui Diversifikasi Pangan Nasional.
Mengganti Gandum Impor Melalui Diversifikasi Pangan Nasional
Oleh: Mahendra Utama*
Ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum kian mengkhawatirkan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Komoditas sorgum (Sorghum bicolor) mencuat sebagai alternatif substitusi pangan lokal yang paling rasional.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa kandungan nutrisi sorgum, terutama protein dan serat, sangat kompetitif dibandingkan komoditas serealia lainnya.
Mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam berbagai forum kedinasan Kementan berulang kali mengingatkan, “Sorgum adalah komoditas masa depan yang bisa memperkuat ketahanan pangan kita sekaligus menekan ketergantungan impor gandum pangan.”
Komoditas ini menawarkan solusi konkret bagi kemandirian pangan nasional tanpa harus membuka lahan sawah baru yang kian menyusut.
Emas Hijau: Bahan Baku Utama Bioetanol Nasional
Selain ketahanan pangan, daya tarik utama sorgum terletak pada diversifikasi energi berkelanjutan.
Varietas sorgum manis (sweet sorghum) seperti Bioguma memiliki kandungan nira batangnya yang sangat tinggi, menjadikannya bahan baku bioetanol generasi kedua yang sangat efisien.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN).
Sorgum dinilai jauh lebih unggul daripada komoditas lain karena siklus panennya yang relatif singkat, yaitu berkisar antara 100 hingga 110 hari saja, serta kemampuan bertunas kembali (ratoon) tanpa perlu melakukan penanaman ulang dari awal benih.
Toleransi Kekeringan di Tengah Ancaman Krisis Iklim
Ancaman krisis iklim global menuntut sektor agribisnis beradaptasi secara cepat. Berdasarkan riset agroklimat Kementan, tanaman sorgum memiliki efisiensi penggunaan air yang sangat tinggi hanya membutuhkan sepertiga air dari kebutuhan tebu dan setengah dari kebutuhan jagung.
Karakteristik ini membuat tanaman purba asal Afrika ini sangat adaptif terhadap cuaca ekstrem dan fenomena El Nino yang kerap melanda wilayah tropis kepulauan Indonesia. (*)
————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network