Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Mengapa Proyek Sorgum Skala Besar Kerap Mengalami Kegagalan?
Mengapa Proyek Sorgum Skala Besar Kerap Mengalami Kegagalan?
Oleh: Mahendra Utama*
Catatan diversifikasi sorgum di Indonesia dipenuhi oleh dinamika keberhasilan dan kegagalan (trial and error).
Di beberapa wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), perluasan lahan sorgum sempat mengalami hambatan serius akibat serangan hama belalang kembara (Locusta migratoria) dan burung pipit massal pada fase pengisian biji.
Faktor kegagalan utama lainnya adalah ketiadaan ekosistem hilirisasi (off-taker) yang jelas. Petani yang tergiur menanam massal seringkali merugi karena tidak adanya pabrik pengolahan biji maupun industri penyulingan nira di sekitar wilayah budidaya mereka, membuat harga di tingkat tapak jatuh drastis.
Formula Keuntungan Model Integrasi Tanaman dan Ternak
Bagi petani yang berhasil, kuncinya terletak pada prinsip manajemen zero waste dengan menerapkan model integrasi tanaman-ternak (crop-livestock system). Keuntungan budidaya tidak boleh bertumpu hanya pada komoditas bijinya.
Di Jawa Timur, kelompok tani sukses mengombinasikan penjualan biji untuk tepung dengan penjualan batang manis dan daun hijau segar ke koperasi peternak sapi perah sebagai pakan silase berkualitas tinggi.
Nilai ekonomi dari limbah biomassa hijau ini terbukti mampu menutup biaya operasional hulu (on-farm) secara signifikan, memastikan arus kas petani tetap mengalir sehat secara berkala.
Kalkulasi Risiko: Harga Pokok dan Standarisasi Benih
Deputi Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan pentingnya kepastian harga pokok penjualan (HPP) untuk melindungi usaha tani.
Budidaya sorgum berpotensi rugi besar jika petani menggunakan benih asalan tanpa sertifikasi resmi BRIN atau Kementan.
Penggunaan varietas unggul seperti Numbu atau Kawali terbukti memangkas risiko gagal tumbuh hingga 40 persen, sekaligus menjamin standardisasi produktivitas hasil panen minimum sebesar 3 hingga 4 ton per hektare. (*)
——————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network