Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Kunjungan Wamenperin ke Lampung: Momentum Lahirnya Klaster Industri Pangan Nasional.
Kunjungan Wamenperin ke Lampung: Momentum Lahirnya Klaster Industri Pangan Nasional
Oleh: Mahendra Utama*
Pembukaan: Secercah Harapan di Bumi Ruwa Jurai
Kamis, 16 Juli 2026, menjadi hari bersejarah bagi Provinsi Lampung. Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza melawat ke tiga titik penting: Lampung Timur, Kawasan Kota Baru (Lampung Selatan), dan Bandar Lampung.
Lebih dari sekadar kunjungan kerja, ini adalah pengakuan resmi atas potensi besar Lampung serta ajakan bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) untuk segera bertransformasi.
Lantas, bagaimana seharusnya Pemprov Lampung memaknai rangkaian peristiwa ini?
1. Memaknai Lampung Timur: Dari “Lumbung” Menuju “Pabrik” Bernilai Tambah
Di Lampung Timur, Wamenperin membuka seminar hilirisasi singkong. Dengan produksi singkong nasional mencapai 7,9 juta ton pada 2024 atau sekitar 51% dari total nasional, Lampung tidak boleh hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Faisol Riza menegaskan, singkong adalah komoditas strategis dan hilirisasinya mendukung Perpres Nomor 81 Tahun 2024.
Pemprov harus memaknai ini sebagai panggilan untuk mengubah struktur ekonomi. Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menyebut harga singkong sempat anjlok hingga Rp500–Rp700 per kg.
Hilirisasi adalah jawaban agar petani tidak lagi menjadi korban fluktuasi harga, melainkan bagian dari rantai nilai industri yang menguntungkan.
2. Memaknai Balai Diklat Industri: Investasi untuk Masa Depan SDM
Di Kawasan Kota Baru, Faisol Riza meninjau lahan 6 hektare yang disiapkan Pemprov untuk Balai Diklat Industri (BDI). BDI akan menjadi pusat pengembangan SDM industri agro.
Wamenperin menyatakan, “Ini merupakan komitmen besar dari Pemerintahan Provinsi Lampung. Tentu kami menyambut dengan tangan terbuka”.
Wakil Gubernur Jihan Nurlela menegaskan dukungan penuh Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, dengan harapan BDI dapat “menguatkan daya saing industri di Lampung, khususnya melalui pembangunan SDM industri yang terstruktur dan tersertifikasi”.
Pemprov harus memaknai BDI sebagai investasi jangka panjang. Teori Human Capital (Schultz, 1961) mengajarkan bahwa investasi SDM adalah kunci pertumbuhan ekonomi.
BDI adalah wujud nyata untuk menciptakan tenaga kerja terampil dan tersertifikasi, mengantisipasi pesatnya pertumbuhan industri Lampung.
3. Memaknai Visi Besar: Menuju Klaster Industri Pangan Nasional
Di Bandar Lampung, Wamenperin melontarkan visi besarnya: “Saya berpandangan Provinsi Lampung memiliki potensi yang sangat besar… menjadi klaster industri pangan nasional”.
Faisol menyebut posisi geografis Lampung strategis, dekat dengan Jakarta, serta didukung pelabuhan internasional dan Tol Trans Sumatera. “Klaster industri agro seharusnya menjadi milik Provinsi Lampung,” tegasnya.
Penutup: Dari Mimpi Menuju Aksi
Pemprov Lampung harus memaknai kunjungan ini sebagai titik tolak. Dukungan penuh dari pusat sudah diberikan.
Kini saatnya bergerak cepat: menyiapkan peraturan turunan, memastikan lahan BDI siap, dan memfasilitasi IKM agar naik kelas.
Seperti dikatakan Wamenperin, BDI ditargetkan mulai dibangun akhir tahun ini atau tahun depan. Waktunya tidak lama lagi. (*)
——————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama, TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian.





Lappung Media Network