Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: BUMD Lampung dan Pertamina, Sinergi Strategis Mengerek PAD dan Kesejahteraan.
BUMD Lampung dan Pertamina, Sinergi Strategis Mengerek PAD dan Kesejahteraan
Oleh: Mahendra Utama*
Pemerintah Kota Bandar Lampung berencana membentuk BUMD SPBU khusus Nelayan. Momentum ini harus dimanfaatkan tidak hanya untuk SPBU, tetapi juga untuk mengelola ekosistem minyak jelantah.
Dengan harga SAF yang kompetitif dan permintaan pasar global, kolaborasi ini bisa menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Peran Strategis BUMD dalam Rantai Pasok
Dalam rantai pasok SAF, peran pengumpul dan agregator sangat krusial. BUMD Lampung dapat menjadi offtaker utama yang menghimpun minyak jelantah dari masyarakat, koperasi, dan UMKM di seluruh Lampung.
Minyak yang terkumpul kemudian disalurkan ke Pertamina Green Refinery Cilacap. Dengan skema ini, BUMD tidak hanya menjadi pembeli, tetapi juga penggerak ekosistem ekonomi sirkular di tingkat lokal.
Teori Kolaborasi Pentahelix
Keberhasilan ekosistem SAF membutuhkan kolaborasi pentahelix: pemerintah, BUMN, swasta, akademisi, dan masyarakat.
Direktur Pemasaran Pertamina Patra Niaga menegaskan, sinergi adalah kunci agar Indonesia menjadi bagian penting dalam rantai pasok SAF dunia.
BUMD Lampung adalah representasi pemerintah daerah yang harus aktif membangun kemitraan strategis ini.
Langkah Nyata yang Harus Diambil
Pertama, BUMD harus segera menyusun studi kelayakan bisnis pengumpulan minyak jelantah skala provinsi.
Kedua, membangun infrastruktur titik kumpul (drop point) terintegrasi di 15 kabupaten/kota se-Lampung.
Ketiga, menjalin kemitraan dengan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel yang telah berpengalaman memberdayakan masyarakat berbasis ekonomi sirkular.
Keempat, memberikan harga kompetitif kepada masyarakat agar minyak jelantah tidak lari ke penadah ilegal.
Dengan langkah ini, BUMD Lampung tidak hanya mendukung target pemerintah mencapai 5% pencampuran SAF pada 2030, tetapi juga menciptakan ekosistem bisnis yang menghidupi masyarakat dari limbah dapur hingga ke langit internasional. (*)
———————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.




Lappung Media Network