Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Kolaborasi Pentahelix dan Masa Depan KPH di Indonesia.
Kolaborasi Pentahelix dan Masa Depan KPH di Indonesia
Oleh: Mahendra Utama*
KPH sebagai Platform Kolaborasi: Kunci Keberhasilan Pengelolaan Hutan Lestari
KPH tidak bisa bekerja sendiri. Keberhasilan KPH dipengaruhi oleh dukungan banyak pihak: pemerintah daerah, dunia usaha, kementerian, masyarakat, pelaku Perhutanan Sosial, perguruan tinggi, dan desa. KPH adalah platform kolaborasi, bukan pulau terpencil.
Penelitian di Sulawesi mengungkap bahwa efektivitas KPH sangat bervariasi tergantung konteks KPH yang sudah terbentuk lebih lama menunjukkan dampak lebih signifikan dalam mengurangi kehilangan hutan akibat kebakaran.
Ini menunjukkan bahwa kapasitas kelembagaan dan kematangan kolaborasi membutuhkan waktu dan dukungan berkelanjutan.
Di KPH Pesawaran, pendekatan kolaborasi diwujudkan melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas, dan media.
Gapoktanhut Pujo Makmur bahkan menjadi laboratorium pendidikan “Hutan Pendidikan Gunung Bunder” bagi universitas, peneliti, dan lembaga swasta.
Revisi Permen LHK Nomor 8 Tahun 2021 sedang diarahkan untuk memperkuat posisi KPH sebagai manajer lanskap utama di tingkat tapak. Namun KPH Pesawaran mengusulkan agar penilaian efektivitas tidak menggunakan satu indikator yang sama untuk semua KPH.
KPH di hutan produksi, hutan lindung, wilayah dengan konflik tinggi, atau tekanan deforestasi tinggi semua memerlukan indikator spesifik wilayah.
Masyarakat bukan objek program, tetapi bagian dari sistem evaluasi. Perlu ada indikator: “Apa yang dirasakan masyarakat sebagai hasil kehadiran KPH?” KPH yang efektif adalah KPH yang mampu menjembatani kepentingan ekologi, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.
Seperti disampaikan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansyah (dulu, red) : “apa yang dilakukan Gapoktanhut Pujo Makmur adalah bukti nyata keberhasilan Perhutanan Sosial dalam mendukung konservasi sekaligus meningkatkan ketahanan pangan”.
Jangan hanya menilai KPH dari apa yang dikerjakan KPH. Nilailah dari apa yang berubah karena KPH. (*)
————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network