Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Mengapa Penerbangan Lampung-Bandung Wings Air Berhenti?
Mengapa Penerbangan Lampung-Bandung Wings Air Berhenti?
Oleh: Mahendra Utama*
Ekspansi Ambisius di Tengah Pasar yang Belum Siap
Wings Air resmi membuka rute langsung Bandar Lampung–Bandung pada 6–7 Agustus 2026, menghubungkan Bandara Radin Inten II (TKG) dengan Bandara Husein Sastranegara (BDO).
Maskapai ini mengoperasikan pesawat ATR 72 berkapasitas 72 kursi ekonomi dengan frekuensi tiga kali sepekan Selasa, Kamis, dan Sabtu dari Bandung, serta Rabu, Jumat, dan Minggu dari Lampung.
Namun, euforia pembukaan rute baru itu tidak bertahan lama. Okupansi perdana hanya mencapai 41,67 persen. Angka ini jauh di bawah ambang batas kesehatan finansial maskapai regional.
Teori Ekonomi Transportasi dan Ambang BEP
Dalam teori ekonomi transportasi, sebuah rute dinyatakan layak jika mampu mencapai load factor minimal yang menutupi biaya operasional langsung.
Menurut Litman (2019), pemilihan moda transportasi merupakan proses di mana individu memilih moda yang dianggap paling efektif dan efisien dengan mempertimbangkan biaya, waktu, jarak, kenyamanan, dan preferensi pribadi.
Artinya, sebuah rute udara hanya akan bertahan jika nilai utilitasnya terutama penghematan waktu melebihi selisih biaya yang dikeluarkan penumpang.
Dengan ATR 72 berkapasitas 72 kursi, Wings Air setidaknya membutuhkan okupansi di kisaran 65–75 persen agar biaya avtur, kru, perawatan, dan landing fee dapat tertutup.
Okupansi 41,67 persen setara dengan hanya sekitar 30 penumpang per penerbangan jauh dari titik impas.
Frekuensi Terbatas dan Efek Jaringan
Frekuensi tiga kali sepekan membuat rute ini sulit membangun network effect. Penumpang bisnis yang membutuhkan fleksibilitas harian cenderung memilih moda yang tersedia setiap hari.
Dalam kerangka Tamin (2000), model pemilihan moda harus mempertimbangkan biaya perkiraan dan biaya aktual, di mana penumpang mengambil keputusan berdasarkan persepsi biaya dan manfaat yang dirasakan.
Ketika jadwal hanya tersedia tiga kali sepekan, persepsi ketidakpastian meningkat, sehingga nilai utilitas penerbangan menurun relatif terhadap bus yang berangkat setiap hari.
Kondisi ini diperparah oleh penutupan sementara Bandara Husein Sastranegara dan Radin Inten II akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau pada September 2026.
Meskipun penutupan bersifat sementara, gangguan operasional berulang memperkuat keraguan calon penumpang terhadap keandalan rute baru.
Pelajaran bagi Perencanaan Konektivitas Udara Regional
Penghentian rute ini bukan semata kegagalan maskapai, melainkan cerminan ketidaksesuaian antara kapasitas yang ditawarkan dan struktur permintaan yang ada.
Rute Lampung–Bandung secara fundamental didominasi oleh perjalanan dengan sensitivitas biaya tinggi, bukan sensitivitas waktu. Penerbangan hanya akan berkelanjutan jika menyasar segmen spesifik pebisnis, pelancong dengan urgensi waktu yang volumenya terbatas.
Tanpa strategi yield management yang agresif dan kemitraan antarmoda yang solid, rute-rute regional seperti ini akan terus menghadapi risiko penghentian. (*)
—————————————–‐——————‐–
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network