Lappung – Pergerakan harga komoditas unggulan seperti kopi, cabai, dan jagung berhasil mendongkrak Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung pada November 2025.
Baca juga : Laju Inflasi Tahunan Lampung Sukses Direm ke 1,20 Persen, BPS: Biaya Sekolah Anjlok
Data terbaru BPS Lampung menunjukkan NTP gabungan bertengger di posisi 129,33, tumbuh 1,25 persen secara month-to-month.
Kenaikan daya tukar ini terjadi karena harga jual produk pertanian melonjak, sementara biaya produksi cenderung turun.
Hal itu terlihat dari penurunan Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,38 persen.
“Peningkatan NTP November 2025 dipengaruhi oleh naiknya NTP di hampir seluruh subsektor, kecuali perikanan budidaya,” sebut laporan BPS, dikutip pada Selasa, 2 Desember 2025.
Di sektor perkebunan yang menjadi tulang punggung ekonomi Lampung, NTP naik 1,31 persen menjadi 167,50.
Baca juga : HET Pupuk Turun, Petani Lampung Utara Lega
Komoditas kopi menjadi pahlawan utama, di mana harganya terdongkrak akibat minimnya pasokan karena belum memasuki masa panen raya di beberapa sentra produksi.
Sementara, subsektor Tanaman Pangan juga perlahan bangkit dengan kenaikan 0,67 persen.
Berlalunya musim panen raya membuat stok gabah dan jagung di pasaran menipis, yang berimbas pada perbaikan harga di tingkat petani.
Namun, tren positif tersebut belum menular ke sektor pertambakan.
Melimpahnya stok udang payau akibat panen raya justru menekan harga jual, membuat NTP Perikanan Budidaya merosot 1,88 persen.
Sebaliknya, nelayan tangkap justru tersenyum lebar dengan kenaikan NTP 0,50 persen berkat naiknya harga cumi-cumi yang sedang langka[cite: 59, 60].
Selain NTP, indikator bisnis pertanian atau Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Lampung juga mencatatkan kinerja impresif dengan kenaikan 1,66 persen dari 131,11 di bulan Oktober menjadi 133,29 di bulan November 2025.
Baca juga : Kopi Lampung Mendunia Inspirasi Petani
