Lappung – Perjalanan panjang kopi Lampung, dari tragedi letusan Gunung Krakatau hingga menjadi primadona di pasar global, menjadi cerminan ketangguhan dan kemampuan adaptasi para petaninya.
Biji robusta yang kini mendunia adalah bukti bagaimana tantangan mampu diubah menjadi peluang emas yang menghidupi jutaan jiwa di Bumi Ruwa Jurai.
Baca juga : Kopi Lampung dan Jalan ke Amerika
Pemerhati sekaligus penikmat kopi, Mahendra Utama, menuturkan bahwa kisah kopi Lampung adalah pelajaran berharga tentang resiliensi.
Menurutnya, kesuksesan yang diraih saat ini tidak lepas dari sejarah kelam yang memaksa para petani untuk berpikir cerdas dan inovatif.
“Sebuah biji kecil kopi terbukti mampu mengubah nasib jutaan orang.
“Kisah kopi Lampung adalah bukti nyata bahwa ketahanan dan kemampuan beradaptasi adalah kunci kesuksesan,” ujar Mahendra Utama, Minggu, 21 September 2025.
Sejarah mencatat, budidaya kopi di Lampung dimulai oleh Belanda pada 1841 dengan jenis arabika.
Namun, letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 dan serangan penyakit karat daun menghancurkan perkebunan arabika.
Kondisi ini memaksa petani mencari alternatif.
“Saya kagum dengan kegigihan para petani Lampung. Ketika arabika dihadapkan pada tantangan berat, mereka tidak menyerah.
“Beralih ke robusta yang lebih tahan penyakit adalah sebuah transformasi cerdas,” jelas Mahendra.
Keputusan itu terbukti tepat. Robusta tumbuh subur dan menjadi tulang punggung perekonomian kopi di daerah ini.
Baca juga : Kopi Sangrai Lampung Tembus Hong Kong, Sejarah Baru Ekspor Produk Olahan
Berdasarkan data, pada tahun 2018 saja, Lampung menyumbang produksi kopi terbesar di Indonesia dengan total mencapai 107.183 ton.
Kabupaten Lampung Barat menjadi lumbung utama dengan produksi 57.930 ton, diikuti oleh Kabupaten Tanggamus dengan 34.129 ton.
Angka-angka tersebut, kata Mahendra, bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari kerja keras ribuan keluarga petani yang secara turun-temurun menjaga kualitas dan produktivitas kebun mereka.
Kini, aroma khas robusta Lampung telah tercium hingga ke berbagai belahan dunia.
Kualitasnya yang premium berhasil menembus pasar-pasar utama di Eropa, Amerika, dan Asia.
Sejumlah merek lokal, mulai dari skala kelompok tani (Koptan) seperti Koptan hingga merek komersial seperti De Lampoeng Coffee, telah membuktikan daya saingnya di tingkat global.
Bahkan, beberapa merek legendaris seperti Sinar Baru Cap Bola Dunia telah bertahan sejak tahun 1917.
“Ini adalah kisah inspiratif tentang bagaimana sebuah daerah mampu bangkit, mengubah tantangan menjadi peluang, dan akhirnya membangun identitas global yang dimulai dari kebun-kebun sederhana milik petani,” tutup Mahendra.
Baca juga : Saatnya Kopi Lampung Naik Kelas: Bukan Cuma Komoditas, Tapi Identitas
