Lappung – Lonjakan drastis harga kopi di Amerika Serikat yang mencapai hampir 21 persen hanya dalam sebulan terakhir membuka peluang emas bagi Provinsi Lampung untuk memperkuat posisinya di pasar global.
Momentum ini dinilai harus dimanfaatkan secara strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui hilirisasi komoditas robusta.
Baca juga : Kopi Sangrai Lampung Tembus Hong Kong, Sejarah Baru Ekspor Produk Olahan
Pemerhati sekaligus penikmat kopi Lampung, Mahendra Utama, menyatakan bahwa situasi di Amerika, di mana kedai-kedai kopi terpaksa menaikkan harga hingga 25 persen, adalah sinyal kuat bagi Lampung sebagai lumbung robusta nasional.
“Bagi pecinta kopi di Amerika, ini mungkin kabar buruk.
“Tapi bagi kita di Lampung, ini adalah peluang yang tidak boleh dilewatkan,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Kamis, 18 September 2025.
Menurutnya, Lampung memiliki fondasi yang sangat kuat.
Data menunjukkan, pada tahun 2024, nilai ekspor kopi Indonesia menembus USD 1,6 miliar, atau naik signifikan sebesar 76 persen dari tahun sebelumnya.
Dari angka tersebut, Lampung memberikan kontribusi lebih dari separuhnya.
“Kontribusi Lampung sekitar USD 840 juta dengan produksi robusta mencapai 141 ribu ton.
“Dengan kekuatan sebesar ini, pertanyaannya adalah kenapa kopi Lampung belum menjadi primadona utama di pasar sekelas Amerika?” tanyanya.
Mahendra menyoroti masalah klasik yang selama ini menjadi pekerjaan rumah bagi industri kopi Lampung.
Sebagian besar ekspor masih dalam bentuk biji mentah (green bean), padahal nilai tambah terbesar justru terletak pada proses pascapanen.
“Nilai jual tertinggi ada pada proses roasting, pengemasan, dan yang terpenting, membangun merek yang kuat agar bisa bersaing di pasar global.
“Di sinilah letak keuntungan yang sesungguhnya,” jelasnya.
Baca juga : Tembus Rp266 Miliar, Kualitas Kopi Lampung untuk Pasar Jepang Dikawal Ketat Karantina
Ia juga menggarisbawahi bahwa meski kondisi petani kopi membaik dalam 10 tahun terakhir, kesejahteraan mereka masih jauh dari kata ideal.
Rantai distribusi yang terlalu panjang membuat keuntungan lebih banyak dinikmati oleh tengkulak dan pedagang besar, bukan petani sebagai produsen utama.
“Jika kondisi ini terus dibiarkan, peluang emas yang ada di depan mata hanya akan lewat begitu saja. Petani tetap tidak merasakan dampak maksimalnya,” tegas Mahendra.
Untuk menangkap peluang ini, Mahendra mendorong adanya gerakan strategis yang melibatkan semua pemangku kepentingan.
Menurutnya, inilah saat yang tepat bagi kopi Lampung untuk melangkah lebih jauh, terutama ketika pasar Amerika sedang mencari pasokan kopi dengan harga yang lebih kompetitif.
“Pemerintah daerah harus berperan sebagai fasilitator utama, koperasi petani perlu diperkuat, dan UMKM kopi harus didukung penuh agar bisa naik kelas.
“Akses pasar internasional wajib dibuka selebar-lebarnya,” paparnya.
Ia menambahkan, kolaborasi ini akan memotong rantai pasok yang tidak efisien dan memastikan keuntungan kembali kepada petani.
Dengan begitu, kopi Lampung tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi yang menyejahterakan.
“Jika kita berani mengambil langkah-langkah strategis ini, kopi Lampung bisa menjadi jalan menuju kemakmuran petani, sekaligus primadona baru di pasar dunia.
“Semoga kopi Lampung benar-benar mampu membawa harum nama Indonesia,” pungkasnya.
Baca juga : Saatnya Kopi Lampung Naik Kelas: Bukan Cuma Komoditas, Tapi Identitas
