Lappung.COM – Simak Artikel OpiniMahe edisi kali ini, topik utama pembahasannya: Cocoa Academy Bisa Jadi Solusi Cerdas Kakao Lampung.
Cocoa Academy Bisa Jadi Solusi Cerdas Kakao Lampung
Oleh: Mahendra Utama*
Praktik pertanian modern menjadi kunci untuk mendongkrak produktivitas yang saat ini masih tertahan.
Lompatan dari Pendekatan Konvensional
Produksi kakao Lampung relatif stabil di 45.000–58.000 ton per tahun, namun produktivitas lahan hanya sekitar 700–900 kg per hektare. Angka ini jauh dari capaian negara produsen utama seperti Pantai Gading.
Padahal, harga kakao basah di tingkat petani Lampung Timur masih berkisar Rp10.000–15.000 per kilogram, sementara kakao premium yang difermentasi bisa melonjak hingga lebih dari Rp90.000 per kg.
Kesenjangan ini muncul karena petani belum sepenuhnya mengadopsi praktik pertanian modern. Mars telah menunjukkan jawabannya melalui Cocoa Academy di Sulawesi Selatan, yang melatih petani dalam dua jalur: agronomi (pemilihan bibit, perawatan, pengendalian hama) dan agrobisnis (kewirausahaan dan manajemen usaha tani).
Hasilnya, sekitar 1.500 petani milenial berhasil dilahirkan dan kini menjadi “cocoa doctor” yang menyebarkan ilmu ke komunitas mereka.
Memotret Teori Perubahan dari Ricardo
Dalam kerangka keunggulan komparatif David Ricardo, Lampung memiliki modal alam tropis yang sangat cocok untuk kakao. Namun keunggulan itu harus ditransformasi menjadi keunggulan kompetitif melalui efisiensi dan kualitas.
Cocoa Academy menjawab kebutuhan ini dengan pelatihan intensif selama satu bulan penuh, yang bahkan telah menjaring mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menjadi “doktor kakao”.
Jika pendekatan ini direplikasi di Lampung, bukan tidak mungkin produktivitas lahan dapat naik signifikan.
Sebab, riset Mars membuktikan bahwa peralihan dari sistem monoklonal ke multiklonal dapat meningkatkan hasil panen hingga 50%. Inilah lompatan yang sangat dibutuhkan perkebunan kakao Lampung.
Menutup Kesenjangan Produktivitas
Hadirnya Cocoa Academy di Lampung akan menjadi pusat pelatihan lapangan yang melengkapi program agroforestri yang sudah berjalan.
Petani tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung pengendalian hama terpadu, peremajaan tanaman tua, dan teknik pascapanen yang benar.
Dengan transfer pengetahuan yang masif, kebangkitan kakao Lampung yang mulai terlihat sejak 2025 bisa berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan.
Sudah saatnya Lampung tidak hanya menjadi pemasok biji mentah, tetapi lumbung kakao berkualitas premium. (*)
—————————————————————-
*Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
