Lappung – Survei terbaru Eurobarometer yang dirilis Komisi Eropa pada September 2025 menunjukkan meningkatnya kegelisahan di kalangan warga Benua Biru.
Meski mayoritas masih menaruh kepercayaan pada Uni Eropa (UE), kekhawatiran terhadap isu keamanan, migrasi, dan ketidakpastian ekonomi kian menguat, sebuah sentimen yang dinilai dapat berimbas langsung ke Indonesia.
Baca juga : Prancis Siagakan RS Hadapi Perang 2026
Hasil survei tersebut menangkap kecemasan publik yang dibentuk oleh perang di Ukraina, gejolak harga energi, dan tantangan global yang semakin kompleks.
Kondisi ini, menurut pemerhati, berpotensi memengaruhi arah kebijakan UE di berbagai sektor, mulai dari perdagangan hingga kerja sama internasional.
Pemerhati yang juga Eksponen 98, Mahendra Utama, mengatakan bahwa sinyal dari Eropa ini tidak boleh dianggap remeh oleh Indonesia.
Menurutnya, sebagai salah satu mitra dagang utama, dinamika opini publik di Eropa memiliki resonansi langsung terhadap kepentingan nasional Indonesia.
“Meski terjadi ribuan kilometer jauhnya, sentimen publik di Eropa adalah barometer penting.
“Kebijakan yang lahir dari kegelisahan mereka akan berdampak pada neraca perdagangan, iklim investasi, hingga peluang kerja sama strategis bagi Indonesia,” ujar Mahendra pada Senin, 15 September 2025.
Dagang dan Investasi
Salah satu dampak paling nyata adalah di sektor perdagangan.
Uni Eropa merupakan pasar ekspor vital bagi komoditas andalan Indonesia seperti kopi, karet, kelapa sawit, dan produk perikanan.
Mahendra menjelaskan, jika tekanan publik mendorong pemerintah Eropa untuk menerapkan kebijakan proteksionisme, maka produk-produk Indonesia bisa menghadapi hambatan tarif maupun non-tarif yang lebih ketat.
“Ini juga bisa membuat negosiasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) antara Indonesia dan Uni Eropa berjalan lebih alot, karena masing-masing pihak akan lebih protektif terhadap pasar domestiknya,” terangnya.
Di sisi ekonomi makro, kekhawatiran di Eropa dapat memicu penguatan dolar AS sebagai aset aman (safe haven).
Baca juga : Gelombang Demo Inggris-Prancis: Pelajaran bagi Indonesia
Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan pada nilai tukar Rupiah dan volatilitas di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena investor global cenderung lebih berhati-hati.
Peluang
Namun, di tengah tantangan tersebut, Indonesia juga memiliki peluang.
Kegelisahan Eropa terkait keamanan, misalnya, mendorong UE untuk memperkuat kemitraan di kawasan Indo-Pasifik.
“Indonesia, dengan posisi geografisnya yang strategis, bisa memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kerja sama keamanan maritim dan menegaskan perannya sebagai jangkar stabilitas di kawasan,” kata Mahendra.
Selain itu, jika sentimen publik Eropa tetap kuat mendukung transisi energi hijau, Indonesia dengan potensi energi terbarukan yang melimpah dapat menjadi tujuan utama investasi di sektor ini.
Sebaliknya, jika isu keamanan mendominasi, agenda hijau bisa tertunda.
Tantangan lain yang perlu diantisipasi adalah potensi pengetatan aturan visa dan mobilitas akibat isu migrasi yang semakin sensitif.
Hal ini dapat memengaruhi mahasiswa, peneliti, dan tenaga kerja profesional Indonesia yang ingin menimba ilmu atau berkarier di Eropa.
“Indonesia perlu membaca sinyal ini secara cermat dan menyusun strategi yang adaptif.
“Ini bukan sekadar informasi, tetapi petunjuk untuk menavigasi tantangan global,” tutup Mahendra.
Baca juga : Badai Politik di Tengah September: Ketika Dunia Berguncang Bersamaan
