Lappung – Dokter Handri Indrawan beberkan beda pusing dan sakit kepala melalui akun media sosial Twitternya @drhandri.
Kultwit yang diunggah pada Rabu, 8 Juni 2022, lalu mendapatkan respon dari warganet dengan 2.509 Retweet, 100 Tweet Kutipan, dan 8.121 Suka.
Baca Juga : 4 Alat Harus Dibawa Untuk Hiking dan Camping
“Pernah nggak kesulitan membedakan pusing dan sakit kepala? Nah kali ini saya akan bikin kultwit tentang perbedaan kedua keluhan tersebut. Manfaatnya adalah agar kita bisa memberikan info yang tepat kepada dokter yang memeriksa, sehingga nggak salah diagnosa,” ujar dr Handri Indrawan mengawali kultwitnya.
Dokter yang bekerja di RSIA PKU Muhammadiyah Rogojampi ini menjelaskan masih banyak orang yang beranggapan pusing dan sakit kepala tidak ada bedanya.
“Kekeliruan tersebut menyebabkan banyak dokter salah mendiagnosis yang berakhir pada pengobatan yang salah. Maka dari itu, penting untuk mengetahui perbedaan antara pusing dan sakit kepala,” ujar di lagi.
Umumnya, lanjut dr Handri Irawan, seseorang merasakan sakit kepala dan pusing dalam waktu yang bersamaan.
Beberapa hal dapat menyebabkan kedua gangguan tersebut adalah dehidrasi hingga kecemasan.
“Mungkin saja gangguan yang menyerangmu hanya salah satu dari kelainan tersebut, tetapi kamu salah mendiagnosisnya sehingga salah mengonsumsi obat,” kata dr Handri seperti dikutip dari media sosialnya.
Pusing dan sakit kepala dapat membuat kepala terasa seperti berputar. Selain itu, gejala yang timbul juga dapat mirip satu dengan lainnya.
“Pusing adalah terjadinya rasa sakit pada bagian kepala yang dapat menimbulkan perasaan seperti berputar-putar dan mampu mengganggu keseimbangan tubuh,” ujar dia.
Pusing dapat muncul secara tiba-tiba, kemudian hilang, lalu muncul lagi setelah beberapa saat.
Kemudian Handri Indrawan beberkan beda pusing dan sakit kepala. Gejala pusing antara lain:
1. Sensasi Seperti Akan Pingsan
Perbedaan antara pusing dan sakit kepala dari sisi gejala adalah tubuh yang merasa akan pingsan secara tiba-tiba.
Gangguan ini umumnya disebabkan oleh tekanan darah yang turun tanpa aba-aba ketika seseorang duduk dalam waktu yang lama lalu berdiri secara mendadak. Hal tersebut terjadi karena pasokan darah ke otak yang tidak cukup.
“Dalam kasus yang parah, kelainan ini dapat menyebabkan penyakit gagal jantung dan gangguan pada ritme detak jantung,” jelas dia.
2. Hilang Keseimbangan
Pusing yang terjadi juga dapat menyebabkan tubuh kehilangan keseimbangan atau limbung. Berbeda dengan sakit kepala, pusing dapat menyerang bagian otak yang berdekatan dengan telinga yang berguna agar tubuh tetap seimbang.
Gangguan ini juga dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti penyakit Parkinson, gangguan rangsangan telapak kaki, atau kurang jelasnya penglihatan.
3. Sensasi Berputar
Perbedaan gejala pusing lainnya dari sakit kepala yang umum dialami adalah sensasi berputar pada kepala.
“Gejala ini juga merupakan salah satu hal yang umum ketika seseorang mengidap penyakit vertigo,” kata Handri Irawan.
Selain itu, pusing dengan sensasi berputar juga dapat terjadi ketika seseorang mengidap infeksi telinga bagian dalam, vestibular neuritis, migrain, dan penyakit meniere.
“Lain hal dengan pusing, sakit kepala adalah gangguan yang menimbulkan rasa nyeri di kepala dan dapat menjalar ke organ lain di sekitarnya,” jelas dia.
Gangguan ini dapat terjadi dalam hitungan menit, jam, bahkan hari.
Namun, gejala sakit kepala biasanya terjadi ketika kondisi tubuh kurang fit seperti:
1. Sakit Kepala Primer
Jenis gangguan yang terjadi pada kepala yang pertama adalah sakit kepala primer.
Hal ini disebabkan karena adanya kelainan pada kepala. Ternyata kelainan ini juga dapat disebabkan oleh gangguan pada otot, leher, pembuluh darah, hingga saraf.
Jenis-jenis sakit kepala primer yang umum terjadi adalah Tension Type Headache, Cluster Headache, dan migrain.
2. Sakit Kepala Sekunder
Berbeda dengan sakit kepala primer, gangguan sakit kepala sekunder terjadi karena gangguan organ tubuh lain, yang kemudian menjalar ke kepala.
Handri menjelaskan beberapa gangguan yang dapat menyebabkan seseorang mengalami penyakit sakit kepala sekunder.
Baca Juga : Talang Rabun Basecamp Para Pencinta Motor Trail
Yaitu gejala dari sinusitis, infeksi yang terjadi pada telinga, gangguan yang berhubungan dengan gigi, gangguan penglihatan (glaukoma), dan perubahan hormon setelah mengonsumsi pil kontrasepsi.
“Dengan memahami perbedaan kedua gangguan tersebut, niscaya kamu dapat menghindari salah konsumsi obat. Selain itu, kesalahan diagnosis dari dokter juga dapat diminimalisir,” tutup dr Handri Irawan.





Lappung Media Network